Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Sahabat yang Bertemu Dajjal

0

Perasaan Tamim ad-Dary dan rombongannya sangat lega. Setelah 30 hari terombang-ambing di tengah samudera, mereka melihat daratan. Ombak besar yang bergulung-gulung dengan langit yang suram telah terlewati. Semula, Tamim bersama 30 orang dari kabilah Lakhm dan Judzam mengira mereka tak akan selamat dan tak akan pernah bertemu Rasulullah.

Harapan para pemeluk Nasrani itu untuk bersyahadat di hadapan beliau seakan pudar ditelan badai.

Hari telah mulai gelap. Perlahan-lahan, kapal mereka mendarat. Tamim dan seluruh penumpang kapal turun untuk beristirahat. Tiba-tiba, mereka dikejutkan oleh hadirnya seekor binatang aneh yang menakutkan. Binatang itu penuh dengan bulu yang sangat lebat hingga tak teriihat jelas bagian muka atau ekornya.

“Binatang apakah kau ini?” tanya Tamim dengan gemetar.

“Aku adalah al Jassasah,” desis binatang itu.

Tamim dan kawan-kawannya bertambah takut lantaran binatang itu ternyata dapat berbicara.

“Pergilah ke kuil itu,” binatang itu menunjuk sebuah tempat. “Temuilah laki-laki yang berada di sana. la ingin sekali mendengar kabardari kalian!”

Dengan menahan takut, Tamim dan rombongannya memasuki kuil. Nyali mereka semakin ciut, manakala di dalam kuil mereka menyaksikan sosok yang tak kalah mengerikan. Seorang laki-laki berbadan sangat besar dengan rambut terurai acak-acakan terbelenggu tangan, kaki, dan lehernya. Belenggu itu membentang antara langit dan bumi, hingga Tamim dan rombongannya terbengong-bengong keheranan.

“Makhluk apakah engkau ini?” tanya Tamim. Sesungguhnya batinnya mulai mengenal laki-laki di depannya. Huruf “kaf’, “fa`”, dan “ra ‘” di dahinya mengingatkan Tamim pada sosok yang kedatangannya teramat dibenci, yaitu Dajjal.

“Bukankah kau telah tahu siapa aku?” jawab makhluk itu seolah mampu membaca pikiran Tamim.

“Kabarkan padaku, apakah kurma-kurma di Baisan masih berbuah?”

“Ya, masih,” jawab Tamim.

“Sebentar lagi kurma-kurma itu tidak akan berbuah,” sahut makhluk itu.

“Apakah danau Thabariyah masih menyimpan air?”

“Ya, masih.”

“Sebentar lagi danau itu akan kering. Apakah mata air Zulghar masih mengalirkan air?”

“Ya.”

“Sebentar Iagi mata air itu akan mengering. Katakan padaku, apa yang dilakukan oleh nabi yang ummi!”

“Beliau berasal dari Makkah dan tinggal di Madinah.”

“Sungguh, mereka yang mengikutinya sangat beruntung. Ketahuilah, aku adalah ad-Dajjal. Tak lama lagi aku akan keluar dan berjalan di muka bumi. Aku datangi seluruh negeri kecuali Makkah dan Madinah. Dua kota itu tidak dapat aku masuki karena malaikat-malaikat menghunuskan pedang setiap aku mencoba masuk. Mereka berjaga di setiap celah kota itu.”

Usai percakapan itu, al-Jassasah dan ad-Dajjal membiarkan Tamim dan rombongannya melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Di hadapan Rasulullah, mereka menceritakan apa yang mereka alami dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam membenarkannya.

Sumber: 77 Cahaya Cinta di Madinah/ Penulis: Ummu Rumaisha/ Penerbit: al-Qudwah Publishing/ Februari, 2015

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline