Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Sahabat di Dunia dan Bertetangga di Akhirat

0

Ibrahim Al-Khawas ialah seorang wali Allah yang terkenal keramat dan dimakbulkan segala doanya oleh Allah. Beliau pernah menceritakan suatu peristiwa yang pernah dialaminya. Ibrahim memililiki kebiasaan keluar menziarahi Mekah tanpa kendaraan dan kafilah.

Pada suatu waktu, tiba-tiba ia tersesat. Kemudian, ia bertemu dengan seorang rahib Nasrani. Ketika melihat Ibrahim, dia pun berkata, “Wahai rahib muslim, bolehkah aku bersahabat denganmu?”

Ibrahim segera menjawab, “Ya, tidaklah aku akan meng-halangi kehendakmu itu.”

Maka berjalanlah Ibrahim bersama dengannya selama tiga hari tanpa meminta makanan sehingga rahib itu menyatakan rasa laparnya.

Katanya, “Tidaklah aku ingin memberitahukan kepadamu bahwa aku telah menderita kelaparan. Oleh karena itu, berilah aku sesuatu makanan yang ada padamu.”

Mendengar permintaan rahib itu, lantas Ibrahim pun memohon kepada Allah dengan berkata, “Wahai Tuhanku, Pemimpinku, Pemerintahku, janganlah Engkau mempermalukan aku di hadapan seteru Engkau ini.”

Belum selesai Ibrahim berdoa, tiba-tiba turunlah hidangan dari langit, berisi dua keping roti, air minum, daging masak, dan tamar. Mereka pun makan dan minum bersama-sama. Sesudah itu, mereka meneruskan perjalanan.

Setelah tiga hari tanpa makanan dan minuman, dikala pagi, Ibrahim berkata kepada rahib itu, “Hai rahib Nasrani, berikanlah kepadaku sesuatu makanan yang ada padamu.”

Rahib itu meng,hadap kepada Allah, tiba-tiba turun hidangan dari langit seperti yang diturunkan kepada Ibrahim dahulu.

Tatkala melihat yang demikian itu, Ibrahim pun berkata kepada rahib itu, “Demi kemuliaan dan ketinggian Allah, tiadalah aku makan sehingga engkau memberitahukan hal ini kepadaku.”

Jawab rahib itu, “Hai Ibrahim, tatkala aku bersahabat denganmu, aku mengenal kemuliaanmu, lalu aku pun memeluk agamamu. Sesungguhnya aku telah membuang-buang masa di dalam kesesatan dan sekarang aku telah mendekati Allah dan berpegang kepada-Nya. Dengan kemuliaanmu, tiadalah Allah mempermalukan aku. Maka terjadilah kejadian yang engkau lihat sekarang ini. Aku telah mengucapkan seperti ucapanmu (kalimah syahadat).”

Maka gembiralah Ibrahim setelah mendengar jawaban rahib itu. Kemudian, mereka meneruskan perjalanan hingga sampai di Mekah Al-Mulcarramah. Setelah mengerjalcan haji, mereka tinggal dua tiga hari di tanah suci itu. Suatu ketika, rahib itu tidak kelihatan. Lalu, Ibrahim mencarinya di Masjidil Haram. Tiba-tiba, Ibrahim mendapatinya sedang bersembahyang di sisi Kakbah.

Setelah rahib itu selesai bersembahyang, dia berkata, “Hai Ibrahim, sesungguhnya sudah dekat perjumpaanlcu dengan Allah. Oleh karena itu, jagalah persahabatan dan persaudaraan kita.”

Setelah berkata begitu, tiba-tiba rahib itu mengembuskan napas teralchimya. Ibrahim merasa amat berduka atas kepergiannya. Ibrahim segera mengurus jenazahnya dan pemakamannya. Ketika tidur, Ibrahim bermimpi melihat rahib itu dalam keadaan yang begitu elok tubuhnya, dihiasi pakaian sutra yang indah.

Melihat hal itu, Ibrahim bertanya, “Bukankah engkau sahabatku, apakah yang telah dilakukan oleh Allah kepadamu?”

Dia menjawab, “Aku berjumpa dengan Allah dengan dosa yang banyak, tetapi dimaafkan dan diampuni-Nya semua itu karena aku berprasangka baik kepada-Nya, dan Dia menjadikan aku bersahabat dengan engkau di dunia dan bertetangga dengan engkau di akhirat.”  []

Sumber: The Power of Tobat/Penulis:Moh Abdul Kholiq Hasan/Penerbit: Tiga Serangkai,2009

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline