Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Saat Umar Berpura-pura Menjadi Orang yang Tersesat

0 2

Dikisahkan suatu malam, Umar bin Khattab berkeliling memeriksa setiap rumah penduduk dengan ditemani seorang sahabat. Di kegelapan malam, keduanya menempuh padang sahara hingga tiba di sebuah gubuk terpencil. Umar mendekati gubuk itu dan mendengar rintihan tangis anak-anak yang menyentuh hati dari dalamnya. Ditemuinya seorang wanita yang tengah menanak nasi. “Siapa gerangan Tuan-Tuan ini?” tanya wanita penghuni gubuk.

“Kami orang tersesat,” jawab Umar pura-pura.

“Di mana suami Ibu?”

“Dia telah gugur dalam suatu peperangan,” jelas si wanita.

Hati Umar terenyuh mendengarnya, lalu bertanya lagi, “Mengapa anak-anakmu menangis terus?”

“Anak-anak itu kelaparan. Aku tidak mempunyai apa-apa untuk mereka makan. Untuk menghibur mereka, aku merebus batu di atas tungku itu, dan membiarkan mereka menunggu hingga tertidur pulas. Kalau sudah tidur, lapar mereka akan lenyap.”

Wanita itu memelas. Umar terdiam sedih. Lalu, ia berkata parau, “Apakah Ibu tidak mendapat jatah pembagian gandum?”

“Amirul Mukminin tidak pernah memperhatikan nasib kami. Allah pasti akan menghukum Umar,” ujar si wanita.

Kontan saja, Umar tertegun dan raut mukanya memancarkan kedukaan luar biasa, tetapi ia tidak marah sedikitpun. Dengan bergegas ia pergi menuju gudang penyimpanan gandum. Hatinya terus-menerus diliputi kecemasan oleh ucapan wanita miskin tadi. Sungguh, Umar tidak menyangka bahwa di antara rakyatnya masih ada yang tidak mendapatkan jatah gandum dari Baitul Mal.

Sesampainya di gudang, sahabatnya diperintahkan menaikkan karung gandum ke atas pundaknya. “Biar aku saja yang memikulnya,” ujar sahabatnya.

“Apakah engkau akan sanggup menggantikanku di neraka kelak?” kata Umar.

Selanjutnya, Umar langsung memikul sendiri gandum itu sampai ke gubuk wanita miskin tersebut. Ia langsung memasaknya, dan setelah matang, ia sendiri yang menyuapi anak-anak yang kelaparan itu.

Si wanita senang bukan kepalang seraya berkata, “Rupanya masih ada orang yang lebih baik daripada Amirul Mukminin.” Tentu saja, si wanita itu tidak mengetahui siapa yang menjadi tamu misteriusnya itu. []

Sumber: The Great of Two Umar/ Penulis: Fuad Abdurrahman/ Penerbit: Zaman, 2016

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline