Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Resep Jitu dari Rasulullah Agar Tidak Malas

0

Dalam kesempatan lain Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menemukan para sahabat saling mengemukakan pendapat tentang kekayaan dan harta. Beliau kemudian menjelaskan bahwa orang yang disebut kaya itu bukanlah yang banyak hartanya tetapi yang kaya hati atau puas dengan apa yang dimiliki (qanaa’ah).

Buktinya, berapa banyak orang yang memiliki kekayaan berlimpah namun tidak merasa bahagia. Harta tersebut justru menjadi beban karena ia terpaksa menjaganya setiap saat. Tentang hal ini, Mu’adz bin Abdullah bin Khabib meriwayatkan dari bapaknya bahwa pamannya berkata, “Suatu hari, ketika kami sedang berkumpul di sebuah maJelis, tiba-tiba Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam datang dengan sisa-sisa air (wudhu) yang masih terlihat di wajah beliau.

Salah seorang di antara kami lalu berkata, ‘Kami melihat engkau sedang bahagia hari ini.’

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Benar, alhamdulillah.’

Selanjutnya orang-orang yang hadir mulai saling mengemukakan pandangan tentang kekayaan. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda, ‘Tidak ada salahnya seseorang memiliki kekayaan asalkan ia tetap bertakwa. Akan tetapi, bagi orang yang bertakwa, kesehatan jauh lebih berharga dibanding kekayaan. Sementara itu, hati yang bahagia (thiib an-nafs) adalah bagian dari kenikmatan) surga.'” (HR Ibnu Maajah)

Pada hadits lain, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menerangkan tentang besarnya rasa permusuhan, kedengkian, serta ambisi setan untuk menjerumuskan nafs manusia ke lubang kehancuran serta menjauhkannya dari rahmat Allah swt. Perasaan benci ini selanjutnya mendorongnya untuk menggunakan segala cara dan tipu muslihat guna merintangi nafs tersebut sampai ke bawah naungan ridha Allah swt.

Walaupun demikian, pada hadits yang sama, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan resep jitu untuk menangkis serangan setan tersebut serta cara membentengi nafs dari tipu dayanya.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pada saat manusia tidur, setan mengikatkan di ujung kepalanya tiga buah tali. Setiap dia mengikatkan satu tali, dia berkata, “Malam panjang, oleh sebab itu teruskan saja tidurmu.”

Jika orang itu kemudian bangun dan langsung mengingat Allah Swt. maka terlepaslah satu ikatan. Jika dia berwudhu maka lepas lagi satu ikatan. Selanjutnya, jika dia melaksanakan shalat subuh maka lepaslah ikatan ketiga (terakhir) sehingga dia menjalani hari itu dengan bersemangat dan hati yang gembira. Akan tetapi, jika tidak maka perasaannya akan selalu gundah dan dia menjalani hari itu dengan rasa malas.” (HR Bukhari) []

Baca juga: Ini Alasan Tertolaknya Do’a Nabi Ibrahim

Sumber: Jiwa dalam bimbingan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam/Penulis: Dr Saad Riyadh/Penerbit: Muassasah Iqra,2004

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline