Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Rasulullah Tidak Akan Membiarkan Wanita Tanpa Penjaga

0

Shafiyyah binti Huyay, ibunya bernama Barrah binti Samaual. Shafiyyah dilahirkan sebelas tahun sebelum hijrah, atau dua tahun setelah masa kenabian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam. Ayahnya adalah seorang pemimpin Bani Nadhir.

Awwam ibn Khuwaylid, suami Shafiyah wafat dengan meninggalkan seorang putra bernama Zubair bin Awwam. Shafiyah mendidik Zubair dengan keras, melatihnya menunggang kuda, dan mengajarinya taktik-taktik perang.

Untuk mainan si Zubair kecil, Shafiyah menyediakan anak panah beserta busurnya. Ia mengajarkan Zubair cara memanah yang mematikan. Ia juga sering membahayakan putranya. Jika bidikan panahnya meleset dari sasaran, Shafiyah biasa memukul Zubair dengan keras sampai beberapa pamannya mengecam sikapnya.

Mereka berkata, “Engkau memukul Zubair dengan pukulan yang mematikan, bukan pukulan seorang ibu!”

Kemudian Shafiyah menjawab, “Siapa yang berkata bahwa aku membencinya, ia dusta! Aku memukul Zubair agar ia kuat dan dapat mengalahkan tentara musuh serta datang membawa harta rampasan.”

Sejak kecil dia menyukai ilmu pengetahuan dan rajin mempelajari sejarah dan kepercayaan bangsanya. Dari kitab suci Taurat dia membaca bahwa akan datang seorang nabi dari jazirah Arab yang akan menjadi penutup semua nabi. Pikirannya tercurah pada masalah kenabian tersebut, terutama setelah Muhammad muncul di Mekah. Dia sangat heran ketika kaumnya tidak mempercayai berita besar tersebut, padahal sudah jelas tertulis di dalam kitab mereka.

Pernah suatu waktu saat Shafiyah melihat orang Yahudi yang menyelinap masuk, maka ia langsung menghampiri dan memukulnya dua atau tiga kali dengan tiang kayu hingga orang itu tewas. Shafiyah kemudian mengambil kepalanya dan membawa-nya ke atas benteng. Dilemparkannya kepala itu ke arah kaum Yahudi.

Seorang Yahudi berkata, “Kita tahu bahwa Muhammad tidak akan pernah membiarkan para wanita tanpa penjaga.”

Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Shafiyah dengan rahmat yang amat luas. Ia telah menjadi teladan yang baik sebagai seorang ibu pendidik muslimah. Ia mendidik anaknya sendirian, bersabar atas kematian adiknya, bahkan dialah yang pertama kali membunuh seorang musyrik dalam Islam. Itu sebabnya Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas sehingga wanita-wanita seperti ini tercipta di tengah umat Islam, juga kaum lelaki yang berjiwa seperti Shafiyah. []

Sumber: Dzaujatur-Rasulullah/ Penulis: Amru Yusuf/ Penerbit: Darus-Sa’abu, Riyadh

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More