Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Rasulullah Menjelaskan Bentuk Kafarat

0

Pada hadits berikut juga diterangkan bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam suatu hari merasa senang hatinya karena pada malamnya beliau menerima kabar gembira dari Allah swt. Kabar tersebut rnembuat beliau merasakan ketenangan (ar-raahahan-nafsiyyah) yang hakiki.

Apa bentuk kabar gembira tersebut?

Sayyidah Aisyah meriwayatkan dari beberapa sahabat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa suatu pagi beliau menemui mereka dengan perasaan gembira dan wajah yang berseri-seri.

Kami lalu berkornentar, “Wahai Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, engkau pada hari ini terlihat gembira dan wajah engkau berseri-seri.”

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Tidak ada yang menghalangiku (untuk merasa bahagia) karena semalam Tuhanku datang kepadaku dalam rupa yang paling indah seraya berkata, ‘Wahai Muhammad.’

Aku lalu menjawab, ‘Labbaik ya Rabb wa saidaik (Aku menjawab panggilanmu ya Allah).’

Allah lalu bertanya, ‘Tahukah engkau apa yang saat ini tengah diperdebatkan para maiaikat?’

Aku menjawab, ‘Wahai Tuhan, aku tidak tahu.’

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Aku mendengar pertanyaan tersebut dua atau tiga kali dan tetap menjawabnya seperti jawaban pertama. Allah Swt lalu meletakkan kedua telapak tangannya di antara kedua bahuku sehingga serta merta aku merasakan kesejukan yang sangat menenteramkan di dadaku. Setelah itu, tersingkaplah di hadapanku seluruh isi langit dan bumi ini.’

Setelah berkata demikian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam membaca ayat, ‘Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.’ (al-An’aam: 75)

Allah lalu bertanya kembali, ‘Wahai Muhammad, tahukah engkau apa yang saat ini tengah diperdebatkan para malaikat?’

Aku menjawab, ‘Tentang kaffaaraat (penebus dosa).’

Allah swt. bertanya, ‘Apa saja bentuk kaffaaraat itu?’

Aku menjawab, ‘Berjalan kaki menghadiri shalat berjamaah, duduk di masjid setelah mengerjakan shalat, serta menyempurnakan air wudhu pada saat-saat yang sulit.’

Allah lalu berkata, ‘Siapa yang mengerjakan hal-hal tersebut maka ia akan hidup dalam kebaikan, meninggal dalam kebaikan, serta diampuni segala dosanya sehingga dia laksana bayi yang baru lahir. Di antara amalan yang paling utama adalah berkata yang baik-baik, menyebarkan salam, memberi makan orang lain, dan shalat di tengah malam, yaitu ketika orang banyak tengah tertidur lelap.’

Allah Swt juga berfirman, ‘Wahai Muhammad, jika engkau mengerjakan shalat maka bacalah: Ya Allah Swt, saya mohon kepada-Mu agar memperoleh segala kebaikan, terjauh dari segala keburukan, memiliki rasa cinta kepada orang-orang. Serta agar Engkau mengampuni segala dosaku. Selanjutnya, jika Engkau bermaksud memberikan cobaan (fitnah) kepada manusia maka wafatkanlah aku dalam keadaan tidak terkena fitnah.'” (HR Ahmad)

Lebih lanjut, Rasulullah saw. juga menerangkan bahwa fitrah (karakter dasar) manusia adalah baik (cenderung kepada kebaikan) dan sesungguhnya Allah Swt menjadikannya sebagai tolak ukur (hakim) terhadap apa-apa yang akan dilakukan atau diusahakannya. []

Baca juga: Abu Hurairah: Rasulullah Membagi-bagikan Harta Warisan

Sumber; Kisah Rindu Penyejuk Kalbu/Penulis: Muhammad Yajid Kalam

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline