Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Rasulullah Menafsirkan Mimpi Abdullah bin Salam

0 28

Betapa resah benak dan hati ‘Abdullah bin Salam pagi itu. Sahabat yang berpenampilan senantiasa rapi dan berucap senantiasa ramah dan santun ini adalah seorang mantan rabi Yahudi dari kalangan Bani Qainuqa’ Madinah. Sahabat yang sebelum memeluk Islam bernama Hushain bin Salam inilah yang persaksiannya atas kebenaran risalah yang dibawa Rasulullah ﷺ.

Selepas Rasulullah ﷺ berpulang ke hadirat Allah ﷻ, sahabat yang memeluk Islam tak lama selepas beliau berhijrah ke Madinah itu termasuk yang menyaksikan jatuhnya Baitul Maqdis ke pelukan pasukan kaum Muslim pada 15 H/636 M, pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Kemudian, ketika menjelang ‘Utsman bin ‘Affan tewas pada Jumat, 18 Dzulhijjah 35 H/17 Juni 655 M, dia termasuk para sahabat yang senantiasa mengimbau kaum Muslim agar tidak mudah melakukan tindak kekerasan. Ini dengan alasan, sekali senjata telah terhunus akan sulit untuk disarungkan kembali. Dan, dia termasuk orang-orang yang bersikap netral ketika terjadi perselisihan antara ‘Ali bin Abu Thalib dan Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Sikapnya yang netral tersebut tetap dia pertahankan hingga dia berpulang ke hadirat Allah ﷻ di Madinah pada 43 H/663 M.

Mimpi aneh yang dialami ‘Abdullah bin Salam pada saat menjelang pagi itulah yang membuatnya resah dan gelisah. Dalam mimpi tersebut, dia melihat dirinya didatangi seorang pria yang kemudian yang memerintahkannya agar pergi bersama pria itu. Karena pria itu kemudian memegang tangannya, dia pun tanpa banyak bertanya dan berpikir segera menapakkan kedua kakinya mengikuti langkah-langkah pria itu. Kemudian, ketika di tengah jalan, dia melihat sebuah jalan membentang di sebelah kirinya. Melihat jalan tersebut, entah mengapa dia ingin sekali melintasinya. Tapi, pria itu ternyata dapat membaca pikirannya, karena pria itu tiba-tiba berucap kepadanya, “Engkau jangan melintasi jalan itu. Sebab, itu adalah jalan orang-orang yang sesat.”

Mereka berdua kemudian meneruskan langkah-langkah mereka. Tidak lama kemudian, dalam mimpi itu, ‘Abdullah bin Salam melihat sebuah jalan membentang di sebelah kanannya. Tiba-tiba tanpa ditanya pria itu berucap kepadanya, “Lintasilah jalan itu.”

Selepas itu, pria itu mengajaknya menuju ke sebuah gunung dan memintanya untuk mendaki gunung itu. Tapi, kegagalan demi kegagalanlah yang terjadi, dia tidak pernah berhasil mendaki gunung itu dan akhirnya dia malah jatuh terduduk. Lalu, pria itu mengajaknya meneruskan perjalanan, hingga akhirnya mereka berdua sampai di sebuah tiang yang ujungnya di langit dan pangkalnya di bumi, sedangkan di pangkalnya terdapat lingkaran. Pria itu kemudian memerintahkannya untuk naik ke tiang itu. Jawab ‘Abdullah bin Salam dalam mimpi tersebut, “Wahai saudaraku! Bagaimana aku bisa sampai ke atas tiang itu, sedangkan ujungnya ada di langit?”

Tiba-tiba pria itu memegang tangan ‘Abdullah bin Salam dan melemparkannya. Tiba-tiba dia mendapatkan dirinya bergantung di lingkaran yang terdapat di ujung tiang itu. Selepas itu, dia memukul tiang itu sehingga roboh. Tapi, ternyata dirinya masih tetap bergantung di lingkaran itu hingga terjaga.

Merasa tidak mampu menafsirkan mimpi yang menyedot seluruh pikirannya tersebut, akhirnya ‘Abdullah bin Salam pun datang kepada Rasulullah ﷺ di Masjid Nabawi, dengan maksud untuk menuturkan mimpi itu. Selepas mengucapkan salam dan berbagi sapa sejenak kepada Rasulullah ﷺ dan para sahabat yang hadir di masjid, dia kemudian menuturkan mimpinya tersebut kepada beliau. Mendengar penuturannya tentang mimpi itu, beliau kemudian berucap kepadanya, “Wahai sahabatku! Sejatinya jalan di sebelah kirimu yang engkau lihat dalam mimpimu itu adalah jalan orang-orang yang sesat. Sedangkan jalan yang engkau lihat di sebelah kananmu adalah jalan orang-orang yang lurus dan gunung yang tidak dapat engkau daki adalah rumah para syuhada. Sayang, gunung itu tidak dapat engkau daki. Dan tiang yang engkau lihat adalah Islam, sedangkan lingkaran yang engkau pegangi adalah Islam yang senantiasa akan engkau pegang teguh hingga engkau berpulang ke hadirat Allah.”

Betapa gembira ‘Abdullah bin Salam menerima penjelasan Rasulullah ﷺ demikian. Dan, dia pun semakin mencintai Allah ﷻ dan Rasul-Nya.[]

Sumber: Mutiara Akhlak Rasulullah S.A.W.: 100 Kisah Teladan tentang Iman, Takwa, Sabar, Syukur, Ridha, Tawakal, Ikhlas, Jujur, Doa, dan Tobat/ Penulis: Ahmad Rofi Usmani/ Penerbit: Mizan, 2006

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

Advertisements

you're currently offline