Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Rasulullah di Langit ke-7 dalam Peristiwa Isra Mi’raj (Bagian 4 Habis)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berniat untuk turun dari langit, lalu Tuhanku memanggilku, “Karena diutusnya engkau wahai Muhammad, sesungguhnya Aku mewajibkan atasmu dan umatmu suatu kewajiban yang bagi siapa saja mampu memenuhinya maka ia masuk surga. Dan bagi siapa saja yang melalaikannya, jika Aku mau Aku akan mengampuninya dan jika Aku mau Aku akan menyiksanya. Aku telah mewajibkan atasmu dan umatmu lima puluh shalat di setiap sehari semalam.”

Lalu aku mengatakan, “Sami’naa wa’atha’naa (Kami mendengar dan mematuhinya).”

Kemudian aku turun dan Allah memberikan ucapan salam atasku. Selanjutnya aku terus melanjutkan perjalanan sehingga aku bertemu saudaraku Musa bin Imran ‘alaihi sallam. Tatkala ia melihatku, ia langsung bangkit dan berdiri seraya berkata, “Selamat datang, wahai kekasih yang berakhlak jujur, apakah kamu baru pulang dari menemui Tuhan-mu?”

Aku katakan, “Iya.”

Lalu ia berkata lagi, “Apa yang telah Allah berikan kepadamu?”

Aku menjawab, “Allah telah memberiku sesuatu dan memberikan ridhanya padaku.”

Lantas Musa ‘alaihi sallam berkata lagi, “Apa yang telah Allah berikan kepada umatmu?”

Aku menjawab, “Allah telah memberi mereka sesuatu dan telah meridhai mereka dan Allah juga telah mewajibkan atasku dan umatku berupa lima puluh shalat dalam sehari semalam.”

Musa ‘alaihi sallam berkata, “Kembalilah dan mintalah keringanan kepada Allah, sesungguhnya umatmu adalah umat akhir zaman, jasad mereka lemah, serta umur mereka pendek. Tentunya mereka tidak mampu untuk melaksanakan kewajiban itu. Karena itu, mintalah pada Tuhanmu agar memberikan keringanan pada mereka.”

Lalu aku berkata, “Wahai saudaraku, siapa yang mampu menembus hijab penutup yang telah aku lalui itu?”

Musa ‘alaihi sallam menjawab,”Mintalah dari sini saja karena sesungguhnya Allah itu Mahadekat dan Maha Mengabulkan atas permintaan hamba-Nya.”

Selanjutnya aku mengucapkan, “Wahai Tuhanku, umatku sangat lemah sehingga mereka tidak akan mampu melaksanakan lima puluh waktu shalat.”

Lantas Nabi shalallahu ‘‘alaihi wa sallam menceritakan, “Tuhan telah mengurangi atasku dan umatku sejumlah empat puluh lima waktu shalat.”

Lalu aku pun kembali bertanya kepada Musa ‘alaihi sallam dan ia berkata, “Kembalilah pada Tuhanmu dan mintalah keringanan dari-Nya karena sesungguhnya umatmu itu tidak mampu melaksanakannya.”

Selanjutnya aku tentu meminta keringanan pada Tuhanku dengan meminta pendapat Musa’alaihi sallam dan Tuhan memberiku keringanan untuk aku dan umatku lima waktu shalat.

Musa lalu berkata lagi, “Mintalah keringanan pada-Nya.”

Lantas aku katakan, “Sungguh aku telah malu kepada Tuhanku ketika Tuhan memanggilku, ‘Wahai Muhammad pulanglah, Kami telah jadikan lima saja untuk pekerjaan wajib itu, meski begitu dalam timbangan ia bernilai lima puluh.”

Akhimya aku mengucapkan selamat tinggal kepada saudaraku, Musa ‘alaihi sallam, seraya aku meninggalkannya. Hingga aku mendatangi saudaraku, Jibril ‘alaihi sallam, yang ketika itu masih berdiri tepat pada posisinya, ia tidak melangkah ke depan atau ke belakang sedikit pun. Ketika ia melihatku ia langsung memelukku dengan seraya mengatakan, “Selamat, wahai kekasihnya Tuhan yang mencipta semesta alam.” Lantas ia mengenggam tanganku dan kami berangkat bersama menuju surga. []

Wallahu ‘alam Bishawab

Sumber: Tempat-tempat Bersejarah dalam Kehidupan Rasulullah/ Penulis: Hanafi Muhalawi/ Penerbit: Gema Insani/ 2002

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline