Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Rasulullah di Langit ke-4 dalam Peristiwa Isra Mi’raj (Bagian 1)

1

Jibril mengetuk pintunya. Selanjutnya mereka (penghuni langit keempat) berkata, “Siapa ini?”

Jibril menjawab, “Saya Jibril.”

Mereka berkata lagi, “Siapa yang bersama kamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Mereka berkata,”Selamat atas kedatanganmu dan kedatangan orang yang bersama kamu.”

Lalu mereka membukakan pintu bagi kami dan kami pun masuk. Ketika itu terlihat olehku langit yang terdiri dari perak putih. Langit itu biasa disebut dengan: az-Zahirah. Aku melihat di dalamnya keajaiban-keajaiban dari Tuhanku yang Mahamulia dan Mahabesar, yang di antaranya berupa berbagai malaikat. Aku juga melihat di sana seorang pemuda yang di wajahnya terdapat cahaya yang cemerlang, dan ia memiliki hati yang khusyu. Lalu aku berkata, “Siapa itu, wahai saudaraku Jibril?”

Jibril menjawab, “Ini saudaramu Idris a.s., Allah telah mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Mendekat dan ucapkanlah salam kepadanya.”

Maka, aku mendekat dan mengucapkan salam padanya. Lalu ia menjawab salamku dan memintakan ampun bagiku dan bagi umatku. Kemudian aku melihat malaikat yang besar bentuk penciptaannya. Kedua kakinya mencapai batasan bumi yang ketujuh dan kepalanya hingga sampai di bawah ‘Arsy. Dia duduk di atas kursi dari cahaya. Sedang di hadapannya dan kanan kirinya terdapat para malaikat. Mereka semua sedang menunggu perintah Allah subhaanahu wa ta’ala. Di sebelah kanannya terdapat lembaran dan di sebelah kirinya terdapat pohon yang sangat besar. Hanya saja malaikat ini tidak pernah tertawa selamanya. Lalu aku berkata, “Wahai saudaraku Jibril, siapa ini?”

Jibril menjawab, “Ini adalah malaikat pemusnah kelezatan, pemisah jamaah, penghancur rumah dan jalan-jalan, pembangun kubur, penyebab anak-anak menjadi yatim, penyebab istri-istri menjadi janda, penyebab penderitaan bagi para kekasih, penutup pintu, pembuat ratapan-ratapan kesedihan, pencabut anak-anak muda. Dia ini adalah malaikat kematian yang bernama Izra’il. Dia beserta malaikat penjaga neraka tidak akan tertawa selamanya. Mendekat dan ucapkanlah salam padanya.”

Lalu aku mendekat dan mengucapkan salam padanya, tapi ia tidak menjawab salamku. Maka Jibril berkata, “Kenapa engkau tidak menjawab salam dari Tuannya para makhluk dan Sang kekasih Allah?!”

Maka begitu malaikat izrail dan malaikat malik mendengar perkataan Jibril, ia langsung beranjak berdiri dan menjawab salam, serta memberikan ucapan selamat padaku atas kemuliaan dari Tuhanku. Ia juga mengatakan, “Bergembiralah, wahai Muhammad, sesungguhnya kebaikan itu ada padamu dan pada umatmu hingga hari Kiamat.” Lalu aku berkata, “Wahai saudaraku Izrail, inikah posisimu?”

la menjawab, “Iya, ini sejak Tuhanku menciptakanku hingga terjadinya hari Kiamat.” Maka aku berkata, “Bagaimana engkau mencabut arwah-arwah itu sedangkan engkau berada di tempatmu ini?”

Ia menjawab, “Sesungguhnya Allah memungkinkanku untuk melakukan itu dan memberiku kuasa atas lima ribu malaikat yang kesemuanya mereka aku sebar di bumi. Maka, apabila seorang hamba sudah sampai pada ajalnya, sudah terpenuhi rezekinya, dan telah selesai masa hidupnya, aku pun mengutus kepada orang itu 40 malaikat yang mereka semua itu akan bertindak mengurusi arwahnya dengan mencabutnya dari urat nadi, urat saraf, daging, dan aliran darahnya. Para malaikat itu juga mencabut nyawanya dari ujung kuku-kukunya, hingga sampai ke lutut dan untuk kemudian dihentikan sejenak. Selanjutnya mereka terus mencabut nyawanya hingga ke pusar dan untuk kemudian dihentikan sejenak. Seterusnya mereka mencabut nyawanya hingga ke kerongkongan sehingga orang itu jatuh sekarat. Lalu aku mengambilnya dan mencabutnya seperti ibaratnya mencabut sehelai rambut dari suatu adonan. Maka, apabila arwah itu sudah terpisah dari jasad, mata akan menjadi beku dan melotot. Karena kedua mata itu mengikuti perginya nyawa tersebut. Selanjutnya aku menggenggam nyawa tersebut dengan salah satu dari dua tombakku ini. Ketika itu aku melihat di tangannya tombak yang terbuat dari cahaya dan satunya lagi tombak yang terbuat dari api amarah. Sehingga arwah yang baik akan digenggamnya dengan menggunakan tombak yang terbuat dari cahaya, untuk kemudian diantarkan keilliyyin. Sedangkan arwah yang buruk akan digenggamnya dengan menggunakan tombak api amarah, untuk kemudian dihantarkan ke Sijjiin, Sijjiin adalah nama sebuah batu yang amat hitam yang berada di bawah bumi lapisan ke tujuh, di dalamnya terdapat pula arwah orang-orang kafir dan orang-orang yang berdosa.” []

Sumber: Tempat-tempat Bersejarah dalam Kehidupan Rasulullah/ Penulis: Hanafi Muhalawi/ Penerbit: Gema Insani/ 2002

1 Comment
  1. […] Setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berbincang dengan malaikat Izrail tentang bagaimana caranya malaikat tersebut mencabut nyawa manusia di bumi, sedangkan malaikat tersebut sedang berada di persemayamannya yaitu di langit ke-4. Kisah sebelumnya bisa dilihat di Rasulullah di Langit ke-4 dalam Peristiwa Isra Mi’raj (Bagian 1) […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline