Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Rasulullah, Abu Bakar, Umar: Aku Lapar

0

Tujuh purnama sudah lewat, masjid yang dibangun Rasulullah dan sahabat-sahabatnya berdiri. Dengan berdirinya masjid tersebut, Yastrib sesungguhnya berubah menjadi kota yang begitu ramai dan pesat perkembangannya.

Semua orang Yatsrib sepertinya setuju bahwa belum pernah kota mengalami kemajuan dan gairah sedemikian rupa sebelum kedatangan Rasulullah tersebut.

Rumah yang paling dekat dengan masjid adalah rumah Abu Ayyub. Jaraknya hanya beberapa meter saja, dan hal ini tak pelak membuat Abu Ayyub menjadi tetangga Rasulullah satu-satunya. Sebenarnya sebelum tinggal di masjid, Rasulullah sudah cukup lama tinggal di rumah Abu Ayyub. Abu Ayyub adalah orang yang mendapat kehormatan dan keberuntungan. Maklum, ketika pertama kali datang dari Mekkah, Rasulullah membiarkan untanya memilih, menjatuhkan pilihannya di halaman rumah Abu Ayyub. Perlakuan Abu Ayyub kepada Rasulullah selama tinggal di rumahnya pun tidak main-main.

Untuk ukuran Yastrib, Abu Ayyub hidup lebih dari cukup. Ia hanya sekian dari sedikit orang Yastrib yang bisa memiliki rumah yang berlantai dua, halaman rumah yang besar, kebun kurma yang luas, dan ratusan ternak yang ia gembalakan.

Pada suatu hari, di tengah hari yang amat panas, Abu Bakar pergi ke masjid. Di tempat itu, ditemuinya Umar bin Khattab. Kedua sahabat itu saling berpandangan.

“Apakah engkau merasakan apa yang aku rasakan?” tanya Umar.

Abu Bakar tidak menjawab seketika. Ia masih memandangi sahabatnya itu. “Aku lapar…”

Umar menjawab. “Demi Allah, aku juga lapar…”

Tapi tak ada yang bisa mereka lakukan. Kedua orang itu sudah tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan hari ini. Meminta kepada saudara-saudaranya yang lain di Yastrib, mereka sudah banyak merepotkan penduduk Yastrib.

Tetapi perut mereka tidak bisa diajak berdamai lagi. Perut mereka sudah meronta-ronta. Lapar terasa menggerogoti mereka. Ketika itu datang Rasulullah.

“Sedang apa kalian sesiang ini berkumpul?” tanya Rasulullah.

Kedua sahabat itu malu-malu menjawabnya, tetapi tak urung segera mengutarakan apa yang mereka rasa, “kami mencari makanan karena lapar, Rasulullah…”

Rasulullah tertegun. Ia memandangi kedua sahabatnya itu, “Demi Allah, aku juga lapar. Dan aku juga tidak mempunyai apa-apa untuk dimakan.”

Sekarang ketiganya tertegun. Bagi Abu Bakar dan Umar, perkataan Rasulullah itu sudah cukup mengatakan bahwa mereka tidak akan mendapatkan apa-apa dari Rasulullah kali ini. Mereka telah hafal benar, Rasulullah tidak akan menyembunyikan sesuatupun untuk mereka. Semuanya biasanya selalu dibagi.

Rasulullah berpikir sejenak, “Mungkin kita bisa mendatangi Abu Ayyub.”

Related Posts

Tatkala Rasulullah menjadi Makmum

Mereka bertiga berjalan bersama-sama ke rumah Abu Ayyub. Biasanya Abu Ayyub memang menyediakan makanan untuk Rasulullah setiap hari—walau belum tentu Rasulullah akan mendatanginya. Sebenarnya perasaan Rasulullah pun sangat tidak enak mendatangi Abu Ayyub dengan maksud seperti itu.

Sesampainya di rumah Abu Ayyub, ternyata istrinyalah yang menemui mereka. Ketiga orang itu hanya terdiam, karena kepada istri Abu Ayyub, terlalu riskan rasanya untuk mengutarakan maksud kadatangan mereka itu.

“Ya Rasulullah,” ujar istri Abu Ayyub dari balik tirai, “suamiku ada di kebun kurma. Dia sedang mengerjakan sesuatu di sana.”

Ketika itu, dari arah luar datanglah orang yang dicari oleh Rasulullah dan sahabat-sahabatnya itu, “Selamat datang, ya Nabi Allah dan sahabat-sahabatku.”

Mereka berpelukan dan kemudian bercakap-cakap. Sepanjang waktu itu, tidak sedikitpun kemudian Rasulullah, Umar, atau Abu Bakar mengutarakan maksud kedatangan mereka. Tidak enak rasanya jika begitu saja meminta sesuatu kepada Abu Ayyub. Dalam hati, Abu Ayyub bertanya-tanya, “tidak biasanya Rasulullah datang pada waktu separti sekarang. Membawa sahabat-sahabatnya pula.”

Akhirnya ditinggalkanlah ketiga orang itu. Abu Ayyub bergegas menuju kebun kurmanya. Dipotongnya setandan kurma. Dalam setandan kurma itu ada yang sudah kering, yang basah, dan yang setengah masak. Sengaja dipilihnya tandan itu agar nanti Rasulullah dan sahabat-sahabatnya mempunyai pilihan yang banyak untuk mencicipi kurma-kurmanya itu.

Belum selesai pekerjaannya itu, Abu Ayyub segera pergi ke belakang rumahnya. Ia segera menyembelih salah satu kambingnya yang paling gemuk. Dalam hati Abu Ayyub, khawatir bahwa pekerjaannya terlalu lama, Sedangkan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya tentu sudah sangat menahan lapar. Abu Ayyub yakin benar, bahwa ketiga orang itu memang tengah mencari sesuap nasi. Sebagai tetangga yang paling dekat dengan ketiganya, ia sudah cukup hafal dalam membaca hal itu.

Abu Ayyub membagi dua sembelihannya. Separuh digulainya dan separuh lagi di panggangnya. Abu Ayyub membuat roti. Setelah masak, maka dihidangkannya ke hadapan Rasulullah dan sahabat-sahabat beliau. Rasulullah dan sahabat-sahabatnya tertegun.

“Ini semuanya untuk kalian…,” ujar Abu Ayyub.

Rasulullah tertegun. Hari sudah sangat siang. Akhirnya ia dan dan kedua sahabatnya segera menyantap hidangan itu. Abu Ayyub sendiri mengantarkan sepotong gulai kambing ke rumah Rasulullah. Tentunya keluarga Rasulullah pun tengah menderita kelaparan seperti itu.

Dalam hati Abu Ayyub, ia menegaskan berkali-kali, bahwa kejadian seperti ini tak akan terulang lagi; membiarkan Rasulullah dan sahabat-sahabatnya kelaparan. Apalah artinya hartanya yang banyak itu jika ia tidak tahu akan kebutuhan saudara-saudaranya—apalagi ini Rasulullah?

Ketika Abu Ayyub kembali ke rumahnya, Rasulullah dan kedua sahabatnya telah selesai makan. Tetapi betapa gundahnya ketika Abu Ayyub melihat ada air mata mengalir di wajah Rasulullah, “Kenapa ya Rasulullah?”

Rasulullah berkata, “Roti, daging, kurma kering, kurma basah, dan setengah kering, gulai dan panggang kambing. Demi Allah yang jiwaku di tanganNya, sesungguhnya beginilah nikmat yang kalian minta di hari kiamat nanti…”

Baik Abu Bakar, Umar maupun Abu Ayyub tertegun. Mereka menyadari bahwa tanpa mendengar perkataan Rasulullah selanjutnyapun mereka mengetahui, bahwa betapa indahnya sebuah pemberian kepada saudara sendiri.

Betapa indahnya ketika penderitaan kita dimengerti dan dibantu oleh saudara sendiri. Di situlah nilai sebuah ukhuwah tampak. Dengan sebuah keikhlasan. Seperti yang dilakukan oleh Abu Ayyub. []

Baca juga: Wahai Nabi Allah, Bisakah Kami Berjalan di Atas Air?

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline