Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Rasululah di Langit ke-7 dalam Peristiwa Isra Mi’raj (Bagian 1)

0


Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Isra : 1)

Mahabenar Allah yang Mahaagung. Di depan pintu langit ketujuh ini, Jibril datang mengetuk pintu. Lalu mereka (penghuni langit ketujuh) berkata, “Siapa ini?”

Jibril menjawab, “Jibril.” Mereka berkata lagi, “Siapa yang bersama kamu?”

Jibril menjawab, “Muhammad.”

Mereka berkata, “Selamat atas kedatanganmu dan kedatangan orang yang bersama kamu. Sebaik-baik kedatangan adalah kedatangan engkau berdua.”

Lalu mereka membukakan pintu bagi kami dan kami pun masuk. Ketika itu terlihat olehku langit yang terdiri dari mutiara yang berwama putih. Langit itu biasa disebut dengan al-Ajiibah yang mempakan langit tertinggi. Di dalamnya, aku mendengar suara goresan pena-pena. Di dalamnya juga aku mendapati malaikat ciptaan Allah Azza wa Jalla yang mereka itu dijuluki ar-Ruhaniyyun. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Tiba-tiba malaikat itu bergeser ke arah kananku, lalu terlihat olehku seorang tua berwajah tampan dan berpakaian bagus. Kulihat ia sedang duduk di atas kursi dari cahaya dengan punggungnya bersandarkan pada BaituI-Ma’mur yang letaknya berhadapan dengan Ka’bah yang telah dimuliakan oleh Allahsubhaanahu wa ta’ala. Aku berkata, “Wahai saudaraku, Jibril, siapa ini?”

Jibril menjawab, “Ini ayahmu Adam a.s. Mendekat dan ucapkanlah salam padanya.”

Lalu aku mendekat dan mengucapkan salam padanya. Ia menjawab salamku dan memberikan ucapan selamat atas kemuliaan dari Tuhanku Azza wa Jalla. Adam berkata, “Selamat datang, wahai putra yang saleh dan Nabi yang suka memberi nasihat. Bergembiralah wahai Muhammad, sesungguhnya seluruh kebaikan itu ada padamu dan pada umatmu hingga hari Kiamat. Sesungguhnya Tuhanmu telah mengangkatmu kepada-Nya adalah untuk memilihmu dan memuliakanmu.”

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Aku telah melihat Baitul-Ma’mur yang di dalamnya terdapat lampu-lampu dari batu permata dan dari cahaya yang mengitari ruangannya. Sebagian batu permata itu berasal dari batu akik berwrna kuning, sebagiannya dari batu akik berwarna hijau, dan sebagiannya lagi dari mutiara-mutiara yang masih basah. Terlihat pula olehku para malaikat berthawaf mengitarinya. Lalu aku berdiri dan ikut thawaf bersama mereka selama tujuh kali. Selanjutnya aku katakan kepada para malaikat, ‘Berapa kali kalian mengunjungi Baitul-Ma’mur ini?'”

Mereka (para malaikat) menjawab, ‘Sejak dua ribu tahun sebelum Allah menciptakan ayahmu Adam a.s.’ Setiap harinya ada jutaan Malaikat yang mengunjungi tempat ini. Hingga hari kiamat, gelombang kedatangan itu tidak akan pernah habis atau tidak akan berulang ke urutan awaI lagi.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kemudian aku maju ke depan, namun aku tidak melihat saudaraku, Jibril, bersamaku.” Lalu aku berkata, “Wahai saudaraku, Jibril, apakah di tempat seperti ini, seorang kekasih meninggalkan kekasihnya dan seorang saudara meninggalkan saudaranya, lantas kenapa engkau meninggalkanku dan membiarkanku tertinggal?”

Jibril memanggil, “Aku lebih mulia bila tertinggal dari engkau. Demi Zat yang telah mengutusmu dengan kebenaran sebagai seorang Nabi. Di antara kita sudah ada yang memperoleh maqam (kedudukan) mulia dan seandainya ada seseorang di antara kami yang telah berani melampaui maqam yang dimilikinya, niscaya ia akan terbakar oleh cahaya.

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Maka tatkala ia berkata ini kepadaku, aku langsung meletakkan tanganku di atas wajahku. Selanjutnya aku disambar oleh petir dan ketakutan, sehingga Jibril mendekapku ke dadanya dengan menggunakan sayap-sayapnya.”

Lalu Jibril berkata kepadaku, “Jangan engkau takut dan bersedih hati. Sesungguhnya Tuhan-mu me-naikkanmu untuk memilihmu dan memuliakanmu, untuk menunjuk-mu dan memberimu.” []

Sumber: Tempat-tempat Bersejarah dalam Kehidupan Rasulullah/ Penulis: Hanafi Muhalawi/ Penerbit: Gema Insani/ 2002

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline