Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Rasa Cemburu yang Terlalu Besar

Terjadi pada suatu malam, saat Nabi berada di tempat Aisyah, beliau berbalik, lalu pelan-pelan melepaskan jubahnya, kemudian beliau melepaskan kedua sandalnya dan meletakkannya di dekat kedua kakinya. Selanjutnya, beliau rentangkan kedua ujung kain sarungnya di atas ranjang, kemudian berbaring.

Tak berapa lama kemudian beliau bangun dan beliau pikir Aisyah telah tertidur pulas. Beliau kemudian mengambil jubahnya pelan-pelan (agar tidak mengusik tidur Aisyah), lalu pelan-pelan beliau pakai sandalnya, lantas beliau buka pintu dan keluar.

Beliau kemudian datang ke pemakaman Baqi’ dan berdiri cukup lama disana sembari mengangkat kedua tangannya tiga kali.

Ternyata diam-diam Aisyah membututi Nabi. Saat Nabi pulang dengan berjalan cepat, Aisyah pun mengikutinya dengan berjalan cepat. Ketika Nabi berlari, Aisyah pun ikut berlari. Hingga akhirnya Aisyah mampu mendahului Nabi sampai di rumah. Namun karena kelelahan Aisyah Nampak kelelahan. Begitu Nabi sampai di rumah, Nabi bertanya kepadanya, “Ada apa denganmu,  wahai Aisyah?”

Aisyah menjawab, “Tidak, aku tidak apa-apa!”

Beliau menukas, “Beri tahu aku atau Rabb yang maha mengetahui yang akan memberitahuku.”

Aisyah pun menjawabnya, “Baiklah, wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku! Aku mengikutimu sewaktu kau keluar barusan. Aku melakukannya karena aku mencemburuimu, aku takut kau bertemu wanita lain.”

Beliau berkata, “Jadi bayang-bayang hitam yang aku lihat tadi itu ternyata kau?”

Read More

Aisyah menjawabnya, “Ya.”

Nabi pun memukul dada Aisyah hingga terasa sakit, lalu beliau berkata, “Apakah kau pikir, Allah dan Rasulnya akan berbuat zalim kepadamu?”

Atas kecemburuan Aisyah pula, Rasulullah pernah mengingatkannya. Saat Rasulullah melihat kecemburuan di wajah Aisyah maka ia berkata, “Mungkinkah engkau sedang di datangi setanmu?”

Aisyah pun heran dan bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah setan yang bersamaku?

“Nabi menjawab, “Ya!”

Aisyah bertanya lagi, “Bersama engkau juga, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Ya, namun Allah menolongku dalam mengalahkannya, sehingga aku bisa selamat dari gangguannya.” []

 

Sumber: Aisyah yang cerdas dan yang dicintai/ Penulis: Ahmad Ibnu Salim Baduwilan/ Penerbit: Irsyad Baitus Salam,2006

Artikel Terkait :

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More