Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Rabi’ah Al-‘Adawiyah, Merubah Pencuri Menjadi Ahli Ibadah yang Luar Biasa

0 2

Suatu ketika rumah Rabi’ah Al-‘Adawiyah kedatangan tamu tak lundang, ialah pencuri yang masuk ke rumahnya dan mencari berharga yang dapat dijadikan bisa bermanfaat bagi dirinya, ternyata keberuntungan belum berpihak pada si pencuri tersebut, ia tidak menemukan barang apa pun selain sebuah ceret.

Ketika hendak Rabi’ah Al-‘Adawiyah memergokinya dan berkata kepadanya, “Hai, jika engkau tergolong kaum syathar (orang yang suka berfoya-foya), keluar dari rumahku tanpa membawa apa pun!”

Mendengar teguran Rabi’ah Al-‘Adawiyah, si pencuri berkata, “Aku belum mengambil apa pun.”

“Hai orang rniskin! Ambillah air wudhu dari ceret itu, masuklah ke ruangan itu dan shalatlah dua rakaat, niscaya engkau tidak akan keluar dari rumah ini tanpa membawa sesuatu.”

Si pencuri melakukan perintahnya. Ketika ia mulai melakukan shalat, Rabrah menengadah ke langit, “Wahai Tuhanku, wahai Majikanku! Orang ini telah datang ke rumahku dan ia tidak mendapatkan apa pun di sini. Dan, sungguh aku telah menghentikannya di depan pintu-Mu, maka janganlah Engkau haramkan dia dari karunia dan pahala-Mu.”

Ketika si pencuri selesai dari shalatnya, ia merasakan lezatnya ibadah. Lalu ia pun terus melakukan shalat hingga akhir malam.

Saat waktu sahur tiba, Rabi’ah Al-‘Adawiyah datang menemuinya, ternyata ia sedang sujud sambil mengucapkan celaan pada dirinya sendiri, “Jika Tuhanku berkata kepadaku. Tidakkah engkau malu melakukan maksiat kepada-Ku. Tidakkah engkau malu menyembunyikan dosa dari makhluk-Ku. Tidakkah engkau malu datang kepada-Ku dengan perbuatan maksiat. Lalu bagaimana jawabanku kepada-Nya ketika la mencela dan menyebutkan kekuranganku?”

Rabi’ah bertanya kepadanya, “Bagaimana keadaanmu tadi malam?”

“Aku dalam keadaan baik, aku berdiri di hadapan Majikanku dengan kehinaan dan kefakiranku. Lalu Dia menerima permohonan maafku atas kesombonganku. Dia telah mengampuni dosaku. Dia juga telah memberikan apa yang kuinginkan.”

Kemudian ia berpamitan dengan wajah yang cerah. Rabi’ah menadahkan kedua telapak tangannya ke arah langit seraya berucap, “Wahai Tuhanku, wahai Majikanku. Orang itu berdiri di pintu-Mu hanya beberapa saat lalu Kau terima. Sedangkan hamba-Mu ini sudah berada di hadapan-Mu sejak mengenal-Mu, apakah Engkau juga menerimaku.”

Lalu terdengar seruan dari langit, “Hai Rabi’ah AI- ‘Adawiyah! Karena engkau, maka Kami menerimanya dan dengan sebab engkau maka Kami mendekatinya.” []

Sumber: 165 Nafas-nafas Cinta, Kidung Cinta Rabiah Al Adawiyah/Penulis:Rudyiyanto/Penerbit: Srigunting,2010

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline