Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Rabi’ Al-Yunus: Hidupku Ada Dalam Cawan Itu

Kekuasaan Musa al-Hadi memalukan dan singkat. Semula, dia menikmati dukungan ibunya yang sangat ia perlukan dan, karena menghormati kedudukan sang ibu, Hadi melibatkannya dalam acara-acara resmi.

Sementara itu, Harun menerima posisi sekundernya dengan tenang dan tidak melakukan upaya apa pun untuk merebut lebih dari bagiannya. Semuanya mungkin akan baik-baik saja bagi keduanya kalau saja Hadi dibiarkan tanpa gangguan. Namun keadaan mulai berantakan setelah dia bermusuhan dengan wazirnya, Rabi’ al-Yunus, perihal seorang gadis yang sama-sama mereka cintai.

Beberapa tahun sebelumnya, Rabi’ menawarkan gadis tersebut, yang bernama Amat al-Aziz (Hamba Perempuan Sang Maha Perkasa), kepada Mandi. Mandi memberikannya pada Hadi. Hadi langsung jatuh cinta dan saat ia menjadi khalifah, gadis itu memberinya dua putra. Saat itu pula dia tahu Rabi sudah bercinta dengannya sebelum menyerahkannya.

Ulat cemburu menggergotinya siang malam. Rabi diturunkan menjadi kepala departemen akuntansi dan pada suatu hari diundang untuk menyertai khalifah saat makan siangnya. Hadi memberinya segala penghormatan, kemudian menyuguhinya secawan anggur madu.

“Kusadari, bahwa hidupku ada dalam cawan itu, tapi aku tahu jika aku menolaknya dia akan memenggal kepalaku. Jadi aku meminumnya, dan sekarang aku tahu aku akan mati. Aku bisa merasakan racun itu sedang bekerja dalam tubuhku saat aku bicara,” tutur Rabi pada keluarganya malam itu.

Pagi harinya, dia meninggal. Kira-kira pada saat ini, Hadi juga mulai terusik oleh ukuran dan karakter kerajaan istana ibunya. Selama sepuluh tahun kekuasaan ayahnya, ibunya memainkan peran yang aktif dalam utusan-utusan negara. Para pejabat kerap meminta nasihat darinya mengenai persoalan-persoalan penting, dan dia terus menarik banyak orang kaya, bangsawan, dan jenderal ke pintu istananya.

Dalam pandangan Hadi ibunya menerima penghormatan sebanyak dirinya. Dan itu tidak bisa dibiarkan.

Suatu hari, dia mengumpulkan para pejabat tertingginya dan berkata, “Siapa yang lebih utama, kalian atau aku?”

Mereka menjawab, “Tentu saja, Paduka, wahai Pimpinan Orang-orang yang Beriman!”

Dia berkata, “Siapa yang lebih utama, ibuku atau ibu kalian?”

Mereka menjawab, “Pastinya, ibu Paduka, wahai Pimpinan Orang-orang yang Beriman!”

Dia bertanya, “Siapa di antara kalian yang suka jika para lelaki bicara pada ibu kalian tanpa sepengetahuan kalian?”

Mereka menjawab, “Tak seorang pun akan suka.”

“Maka,” kata sang khalifah, “bagaimana menurut kalian mengenai para lelaki yang tetap saja mendatangi ibuku tanpa sepengetahuanku?”

Persoalan mencapai puncaknya ketika suatu hari ibunya meminta Hadi untuk mematuhinya dalam beberapa hal terkait dengan pengangkatan pejabat, “Engkau harus melakukan hal ini untukku,” katanya.

Namun Hadi menolak.

“Tuhan Maha Tahu,” katanya, “aku tidak akan meminta apa pun darimu lagi.”

“Tuhan juga Maha Tahu bahwa hal itu tidak membuatku khawatir,” balas putranya.

Khaizuran berdiri hendak pergi namun Hadi kehilangan kendali dan membentak, “Duduk dan dengarkan apa yang akan aku katakan! Apa arti kerumunan orang yang hendak mengajukan permohonan di depan pintumu ini? Tidakkah engkau punya roda penenun untuk membuatmu sibuk atau al-Quran untuk kau baca?”

“Sejak itu, ibunya tidak bicara sepatah kata pun pada Hadi, pahit atau manis, dan tidak muncul di hadapannya sampai kematian secara tiba-tiba menjemputnya,” tutur Thabari. []

Sumber: Kejayaan Sang Khalifah Harun ar-Rasyid: Kemajuan Peradaban Dunia pada Zaman Keemasan Islam/ Penulis: Benson Bobrick/Penerbit: Alvabet,2012

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline