Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Putra Terbaik di Antara Hamba Allah Seluruhnya

Hisyam bin Abdul Malik yang sedang menjabat sebagai Amirul Mukminin datang ke Mekah untuk berhaji. Ketika beliau thawaf dan hendak mencium Hajar Aswad, para pengawal memerintahkan orang-orang supaya melapangkan jalan untuknya.

Namun mereka tak mau minggir dan tak menghiraukan rombongan Amirul Mukminin, karena itu adalah rumah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan semua manusia adalah hamba-Nya.

Sementara itu dari kejauhan terdengar suara tahlil (laa ilaaha illallah) dan takbir, di tengah-tengah kerumunan terlihat seseorang berperawakan kecil, wajahnya bercahaya, nampak tenang, dan berwibawa. Dia mengenakan kain dan jubah, di dahinya tampak bekas sujud. Orang-orang berdiri berjajar, menyambut dengan pandangan penuh cinta dan kerinduan. Dia terus berjalan menuju Hajar Aswad kemudian menciumnya.

Seorang pengawalnya menoleh ke arah Hisyam, “Siapa orang yang dihormati sedemikian rupa oleh rakyat itu?”

Hisyam berkata, “Aku tidak tahu.”

Kebetulan di dekat situ hadir Farazdak, lalu dia berkata, “Barangkali Hisyam tidak kenal, tapi saya mengenalnya. Beliau adalah Ali bin Husein.” Selanjutnya dia bersyair,

“Orang ini, bebatuan yang diinjaknya pun mengetahuinya

Tanah Haram dan Baitullah pun mengenalnya

Dialah putra terbaik di antara hamba Allah seluruhnya

Berjiwa takwa, suci, bersih, dan luasnya ilmunya

Dialah cucu Fathimah jika Anda belum mengenalnya

Cicit dari orang yang mana Allah menutup para Nabi dengannya

Pertanyaanmu “Siapa dia” tak mengurangi ketenarannya

Orang Arab dan Ajam mengenal, meski kau tak mengenalnya

Kedua tangannya laksana hujan yang semua memanfaatkannya

Manusia membutuhkan uluran tangannya

Tak ada yang dikecewakan olehnya

Tiada pernah berkata “tidak” selain dalam tasyahudnya

Kalaulah bukan karena syahadah, niscaya hanya ada kata “ya”

Menyebarkan kebaikan di tengah manusia

Sirnalah kezhaliman, miskin, dan papa

Jika orang Quraisy melihatnya pastilah berkata:

Sampai setinggi itukah kemuliaannya?

Tertunduk mata karena malu kepadanya

Merasa kerdil melihat kehebatannya

Tak pernah lupa tersenyum tatkala berkata-kata

Di tangannya tergenggam tongkat yang harum aromanya

Dari tangan manusia cerdas hidung mencium bau wanginya

Keturunan Rasulullah dia asalnya

Alangkah mulia asalnya, akhlaknya, dan juga perangainya.” []

Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in/Penulis: Dr. Abdurrahman Ra’at Basya/Penerbit: At-Tibyan,2009

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline