Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Puasa bagi Orang yang Junub

0

Suatu ketika, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam sedang berada di rumah `Aisyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq, istri tercinta beliau. Aisyah adalah satu-satunya istri beliau yang masih gadis ketika menikah dengan beliau.

Dia lahir di Makkah pada tahun kesembilan sebelum Hijrah. Dia putri pasangan suami-istri Abu Bakar Al-Shiddiq dan Ummu Ruman binti ‘Umair bin ‘Amir (yang meninggal dunia di Madinah). Dari pasangan ini, ‘A’isyah memiliki saudara sekandung, yaitu ‘Abdurrahman, sedangkan, saudaranya seayah adalah ‘Abdullah, Muhammad, Asma’, dan Ummu Kultsum.

Ibunda Orang-Orang Beriman yang terkenal cerdas dan berwawasan luas ini, meski tak mempunyai keturunan, mendapat sebutan Ummu Abdillah (Ibu `Abdullah), mengikuti nama kemenakannya, ‘Abdullah bin Al-Zubair.

Dia melangsungkan pernikahan dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam di Makkah pada Syawal tahun kesepuluh kenabian (beberapa hari setelah beliau menikah dengan Saudah), sekitar tiga tahun setelah meninggalnya Khadijah. Mahar pernikahannya sebanyak 12 uqiyah atau sekitar 400 dirham.

Karena kala menikah masih terlalu muda, dia dikirimkan kembali kepada orangtuanya. Dan diamulai serumah-tangga dengan beliau pada tahun kedua Hijriah. Ketika beliau sedang di rumah `A’isyah tersebut, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu. Beliau pun keluar untuk menemui tamu tersebut.

Sementara itu, ‘A’isyah tetap berada di dalam rumah, tetapi masih mendengar perbincangan sang suami dengan tamunya yang ternyata meminta fatwa beliau. Orang itu bertanya kepada beliau dengan suara agak pelan dan malu-malu, “Wahai Rasul! Aku punya masalah yang membuatku resah dan gelisah. Masalah itu terjadi pada bulan Ramadhan yang belum lama berlalu. Kala itu waktu shalat subuh telah masuk. Tapi, saat itu, aku masih dalam keadaan junub. Bagaimana dengan puasaku kala itu? Bolehkah aku berpuasa dalam keadaan yang demikian itu?”

“Wahai sahabatku, engkau tak usah gelisah. Aku pun pernah mengalami kejadian serupa yang engkau alami itu. Engkau tak usah ragu, puasamu tidak batal. Aku saat itu tetap berpuasa meski dalam keadaan junub,” jawab beliau serayatersenyum mendengar pertanyaan yang demikian.

“Tapi, engkau kan tak sama dengan kami, wahai Rasul! Allah kan mengampuni dosa-dosamu, baik yang lalu, yang kini, maupun yang akan datang,” ucap orang itu.

“Sahabatku! Sungguh, aku selalu berharap menjadi orang yang paling takut kepada Allah dan menjadi orang yang paling mengetahui cara-cara bertakwa.” []

Sumber: Teladan Indah Rasulullah dalam Ibadah: 1000 Kisah Penuntun Shalat, Puasa/ Penulis: Ahmad Rofia Usmani/ Penerbit: Mizan

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline