Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Pria yang Berlaku Laksana Singa Lapar

Perang Badar merupakan perang pertama yang terpaksa diarungi oleh Kaum Muslimin menghadapi musuh yang jauh lebih besar jumlahnya. Perang ini merupakan demonstrasi pertama dari ketangguhan kaum muslimin melawan serangan kaum musyrikin Quraisy. Untuk pertama kalinya panji perang Rasulallah berkibar di medan laga. Dan yang diberi kepercayaan memegang panji yang melambangkan tekad perjuangan menegakkan agama Allah Swt itu, ialah Ali bin Abi Thalib.

Tanpa pengalaman perang sama sekali dan dengan kekuatan pasukan yang hanya sepertiga kekuatan musuh, pasukan muslimin dengan kebulatan iman yang teguh berhasil menancapkan tonggak sejarah yang sangat menentukan perkembangan Islam lebih lanjut.

Pasukan berkuda dan penunggang unta, yaitu pasukan yang dipandang paling ampuh dan modern pada masa itu. Demikian langkanya kuda dan unta dibanding dengan jumlah pasukan yang ada, sampai-sampai seekor unta dikendarai oleh dua hingga empat orang secara bergantian. Hanya ada seekor kuda yang tersedia, yaitu yang dikendarai oleh Al Migdad bin Al Aswad Al Kindiy.

Dalam perang Badr itu pasukan muslimin tidak sedikit yang menerjang musuh hanya dengan senjata-senjata tajam yang sangat sederhana. Sedangkan musuh yang dilawan mempunyai persenjataan lengkap dengan kuda-kuda tunggang dan unta-unta. Tetapi sebenamya kaum muslimin mempunyai senjata yang lebih ampuh dibanding dengan lawannya, yaitu kepemimpinan Rasulallah dan kepercayaan kuat bahwa Allah pasti akan memberikan pertolongan-Nya.

Ketika peperangan mulai berkobar, Ali bersama Hamzah bin Abdul Mutthalib dan beberapa orang lainnya, berada di barisan terdepan. Pada tangan Ali berkibar panji perang Rasulallah. la terjun ke medan laga menerjang pasukan musuh yang jauh lebih besar dan kuat. Dalam perang ini untuk pertama kalinya kalimat “Allahu Akbar” berkumandang membajakan tekad pasukan muslimin.

Saat itu terdengar suara musuh menantang, “Hai Muhammad suruhlah orang-orang yang berwibawa dari asal Quraisy supaya tampil!”

Mendengar tantangan itu, laksana singa lapar Ali meloncat maju ke depan mendekati suara yang menantang-nantang. Terjadilah perang tanding (duel) antara Ali dengan Al Walid bin Utbah, saudara Hindun isteri Abu Sufyan. Dalam pertempuran yang seru itu, Al Walid mati di ujung pedang Ali.

Dalam perang Badr ini 70 orang pasukan kafir Qureiys mati terbunuh, dan hampir separonya mati di ujung pedang Ali. Kecuali itu lebih dari 70 orang pemuka Qureiys berhasil ditawan dan digiring ke Madinah. Perang Badr yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin itu merupakan fajar pagi yang menandai pesatnya kemajuan agama Allah Swt. []

Sumber: Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a./ Penulis: H.M.H. Al Hamid Al Husaini/ Penerbit: Lembaga Penyelidikan Islam,1981

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline