Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Empat Hari Sebelum Rasulullah Berpulang ke Pangkuan Allah

0

Pada hari Kamis, empat hari sebelum Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam wafat, dengan rasa sakit yang semakin berat mendera, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Kemarilah, aku akan menulis kepada kalian sebuah surat, jika (kalian berpegang pada) surat ini kalian tidak akan pernah tersesat!”

Ketika itu, beberapa sahabat sedang berada di rumah beliau, termasuk Umar. Mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata demikian, Umar berkata, “Beliau sedang dikuasai rasa sakit. Al-Qur’an telah ada bersama kalian, dan Kitabullah sudah cukup untuk kamu.”

Oleh karena itu, semua yang berada dalam rumah jadi berselisih dan saling bertikai. Satu pihak mengatakan, “Mendekatlah, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam akan menuliskan sesuatu kepada kalian!”

Sementara pihak yang lain sependapat dengan Umar. Dalam suasana gaduh akibat silang pendapat itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata, “Tinggalkan aku” (HR Bukhari)

Maka pada hari itu, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan tiga perkara, yaitu pertama, supaya orang-orang Yahudi, Nasrani, dan musyrikin diusir keluar dari Jazirah Arab. Kedua, agar hadiah diberikan kepada utusan-utusan sebanyak yang beliau berikan kepada mereka. Ketiga, perawi sudah tidak mengingatnya lagi. Boleh jadi, wasiat ketiga adalah untuk selalu berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah atau untuk memberangkatkan bala tentara yang dipimpin oleh Usamah; atau tentang menjaga shalat dan budak-budak yang dimiliki oleh kaum muslimin. Meski Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam keadaan sakit parah, beliau tetap melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah sampai hari Kamis, empat hari sebelum beliau wafat. Pada hari itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam hanya dapat shalat berjamaah hingga shalat magrib saja. Dan seperti biasanya, beliau membaca surah al-Mursalat dalam shalat itu.

Ketika waktu isya, sakit beliau bertambah parah sehingga beliau tidak sanggup keluar dari rumah untuk shalat berjamaah. Tentang saat itu, Aisyah memaparkan, “Waktu itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, `Sudahkah orang-orang shalat?’

Kami pun menjawab, ‘Belum, wahai Rasulullah. Mereka sedang menunggumu.’

lantas beliau berkata, `Siapkan air di dalam tempayan untukku!”

Setelah kami mengerjakan permintaannya, beliau pun mandi. Kemudian beliau bangkit dan berdiri, namun kemudian beliau jatuh pingsan. Saat siuman, beliau bertanya lagi, ‘Apakah orang-orangsudah shalat?’

Ketika hendak bangkit, beliau pingsan lagi untuk kali kedua, dan hal yang sama juga terulang pada yang ketiga kalinya. Oleh karena itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengirim pesan kepada Abu Bakar untuk mengimami shalat jamaah. Dalam beberapa hari itulah Abu bakar mengimami tujuh belas kali shalat jamaah di masa hidup Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR Bukhari)

Ketika Rasulullah memilih Abu Bakar sebagai imam untuk menggantikan beliau, sebenarnya Aisyah telah memberi pertimbangan tiga atau empat kali agar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memilih orang lain saja. Aisyah berpendapat bahwa orang-orang akan melihat suatu pertanda buruk bila Abu Bakar sudah mengimami shalat jamaah. Tetapi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak setuju dengan pertimbangan itu. Beliau berkata, —”Kalian ini takubahnya seperti wanita-wanita (yang menggoda) Yusuf. Suruh Abu Bakar untuk mengimami shalat jamaah!”

Hari Sabtu atau Ahad, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam merasa badan beliau telah segar, maka dengan dipapah oleh dua orang sahabata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk shalat zhuhur. Pada saat itu Abu Bakar sudah siap-siap untuk mengimami shalat, namun melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam datang, Abu Bakar mundur. Akan tetapi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat supaya ia tetap di tempatnya seraya berkata kepada kedua orang yang memapahnya, “Dudukkan aku di sampingnya!” Mereka pun mendudukkan beliau di sebelah kiri Abu Bakar. Abu Bakar kemudian mengikuti shalat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dan memperdengarkan takbir kepada jamaah di belakang.

Sehari sebelum wafat, yaitu hari Ahad, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam memerdekakan hamba sahaya beliau, menyedekahkan ketujuh keping Dinar yang beliau miliki, serta menghibahkan senjata-senjata beliau kepada kaum muslimin. Pada malamnya, Aisyah terpaksa meminjam minyak kepada tetangga untuk menyalakan lentera. Sementara perisai kepunyaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sudah lebih dulu digadaikan kepada seorang Yahudi, untuk mendapatkan tiga puluh liter gandum. []

Sumber: Wasiat2 Akhir Hayat dari Rasulullah/ Penulis: Zuhair Mahmud Al-Humawi/ Penerbit: Gema Insani, 2005

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline