Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Pesan Terakhir Abu Bakar kepada Umar

Menjadi sosok seorang pemimpin dalam mengatur urusan umat, jelas bukan merupakan suatu yang mudah. Karena Allah akan senantiasa memintai pertanggung jawaban mengenai kepemimpinannya. Baik sisi ekonomi, kesehatan, pendidikan, juga hal-hal lainnya termasuk keamanan dan keselamatan umatnya.

Bagaimana Umar harus menghadapi semua itu?

Itulah pertanyaan yang senantiasa memenuhi kepala Umar. Pertanyaan itu mengganggu benaknya malam yang terus beranjak larut.

Selepas wafatnya Abu Bakar. Esoknya, pagi-pagi sekali umat akan membaiat dirinya sebagai khalifah pengganti Abu Bakar. Umar sadar benar, ia akan menghadapi umatnya yang menyetujui pencalonannya. Lalu apa yang harus dilakukannya?

Belum lagi menghadapi situasi perang yang amat pelik di Irak dan Syam, padahal kedua tempat tersebut merupakan kawasan yang paling berbahaya dalam sejarah kedaulatan yang baru tumbuh itu.

Di saat manusia tak lagi sanggup berpikir apa yang akan terjadi esok, maka hanya kepada Tuhan diserahkan segala urusan.

Demikian juga dengan Umar yang selalu menyerahkan segala urusannya kepada Allah Sang Pemilik jalan keluar.
Dini hari itu, Umar bersimpuh. Dalam doanya, dia memohon kepada Allah agar diberi jalan keluar dan ditunjukan pada keputusan yang benar.

Umar menyadari bahwa esok dia akan bertemu Mutsanna, pemimpin pasukan Muslim untuk wilayah Irak yang meminta tambahan pasukan dari Madinah. Umar tentu akan ditanya oleh Mutsanna perihal bantuan tersebut yang juga pernah dipinta Mutsanna kepada Abu Bakar.

Di dalam perenungannya, Umar teringat wasiat Abu Bakar tentang Irak sebelum Abu Bakar meninggal, “Wahai Umar, perhatikan apa yang aku katakan ini dan laksanakanlah. Tidak lama lagi aku akan wafat. Seandainya aku wafat sebelum petang ini, kumpulkanlah pasukan kemudian berangkatkan mereka bersama Mutsanna. Jika Allah memberi kemenangan pasukan Muslim di Syam, kirimkan juga pasukan Muslim di syam, kirimkan juga pasukan Khalid bin Walid di Syam menuju Irak, karena pasuka Muslim yang bersama Khalid bin walid adalah penduduk asli sana sehingga mereka menguasai medan pertemuran. Mereka juga adalah orang-orang yang pemberani.”

Inilah wasiat Abu Bakar kepada Umar. Wasiat itu membuat Umar senatiasa gundah karena ia khawatir di awal kepemimpinannya tidak mampu memikul wasiat dari khalifah sebelumnya, juga Umar khawatir tidak mampu memikul beban kepemimpinannya. []

Sumber: The Golden Story of Umar bin Khaththab/ penulis: DR. Ahmad Hatta, MA/ Penerbit: Maghfirah Pustaka/ April 2014

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline