Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Pertemuan Nabi Khidir dan Ibrahim bin Adham

0

Dahulu, sebelum Ibrahim bin Adham menjadi ulama sufi yang terkenal, beliau adalah seorang raja yang sangat luas kekuasaannya dan hingga tiba pertemuannya dengan Nabi Khidir as.

Dikisahkan pada suatu hari seperti biasanya, Ibrahim bin Adham berada di atas singgasananya, guna mendengarkan keluh kesah rakyatnya. Namun, pada hari itu, lain dari biasanya karena para menteri dan rakyat melihat perubahan yang terjadi secara tiba-tiba pada diri raja mereka.

Perubahan terjadi karena ada seseorang yang misterius masuk ke pertemuan tersebut. Wajahnya begitu menakutkan sehingga tak ada seorang pun yang berani menegur dan menyakan keperluannya. Kejadiannya begitu cepat dan tak ada yang berani mencegahnya untuk masuk pertemuan negara tersebut. Orang misterius tersebut kemudian langsung menghadap Raja Ibrahim bin Adham.

“Apakah yang engkau inginkan?” tanya Ibrahim.

“Aku baru saja sampai, berilah istirahat sejenak,” jawab orang misterius itu.

“Wahai orang asing, ini bukanlah tempat persinggahan kafilah. Ini istanaku. Perilakumu itu seperti orang gila saja,” cerca Ibrahim dengan nada tinggi.

Akan tetapi lelaki misterius itu tak mau tinggal diam. Ia malah balik bertanya, “Siapa pemilik istana ini sebelum engkau?”

“Ayahku,” jawab Ibrahim.

“Sebelum ayahmu?”

“Kakekku,” jawab Ibrahim kesal.

“Sebelum kakekmu siapa pemiliknya?”

“Ini warisan dari keluarga kakekku,” jawab Ibrahim dengan nada emosi.

“Kemanakah mereka sekarang ini?” orang misterius yang tak menunjukkan rasa takut sama sekali.

“Mereka telah meninggal dunia,” jawab Ibrahim.

“Jika demikian, tidakkah ini sebuah persinggahan yang diduduki oleh seseorang kemudian ditinggalkannya dan diganti oleh yang lain pula?” jelas orang misterius tersebut.

Mendengar penjelasan tersebut, Ibrahim bin Adham tersentak kaget.

Namun sebelum Ibrahim sempat menjawab, orang misterius itu mundur ke belakang dan tiba-tiba saja gaib menghilang di tengah kerumunan orang-orang.

Ibrahim tak menyadari bahwa orang misterius tersebut adalah Nabi Khidir as karena pada pertemuan selanjutnya Nabi Khidir as mengakuinya. []

Baca juga: Tatkala Matahari Tertahan, Kemenangan pun Diraih

Sumber: Kitab Tazkirat Al Aulia,/Penulis: Syeikh Farid Ad Din Attar

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline