Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Pertemuan Dua Sahabat Nabi dari Zaman yang Berbeda

0

Pada masa khalifah Umar, wilayah Qadisiyah yang termasuk kota besar di Persia (Iran dan Irak sekarang ini) ditaklukan dan Sa’d bin Abi Waqqash, salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga ketika hidupnya, menjadi Amirnya.

BACA JUGA: Mengapa Muslim Harus Menjawab Adzan?

Setelah beberapa waktu lamanya, Umar memerintahkan Sa’d mengirim sahabat Nadhlah bin Muawiyah untuk menaklukan Hulwan, masih termasuk wilayah Persia lainnya. Dengan 300 orang tentara berkuda, Nadhlah melakukan pengepungan Kota Hulwan beberapa waktu lamanya sehingga mereka menyerah, menyatakan takluk kepada Madinah.

Nadhlah kembali ke Qadisiyah dengan membawa jizyah dan ghanimah yang cukup banyak. Di tengah perjalanan, mereka singgah di suatu dataran di bawah pegunungan karena telah masuk waktu shalat. Nadhlah berdiri melantunkan adzan, tetapi di sela-sela jawaban adzan dari anggota pasukannya, terdengar suara lain dari atas gunung yang menimpali suara adzannya, dan mereka semua mendengarnya cukup jelas.

Ketika ia melantunkan, “Allahu Akbar Allahu Akbar (2x).”

Terdengar suara jawaban, “Engkau telah mengagungkan Dzat Yang Maha Besar, wahai Nadhlah!”

Ketika ia melantunkan, “Asyhadu allaa ilaaha illallaah (2X).”

Terdengar suara jawaban, “Itu adalah kalimat ikhlas, wahai Nadhlah!”

Ketika ia melantunkan, “Asyhadu anna muhammadar Rasulullaah (2).”

Terdengar suara jawaban, “Wahai Nadhlah, dia (Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam itu) adalah orang yang diberitahukan Nabi Isa AS kepada kami!”

Ketika ia melantunkan, “Hayya `alash sholaah (2x).”

Terdengar lagi suara jawaban, “Sungguh beruntunglah orang yang mengerjakannya secara istiqomah!”

Ketika ia melantunkan, “Hayya `alal falaah(2x).”

Terdengar suara jawaban, “Sangatlah beruntung orang yang memenuhi ajakan Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, itu adalah jaminan bagi umat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam!!”

Ketika ia melantunkan, “Allahu Akbar Allahu Akbar, laa ilaaha illallaah.”

Terdengar suara jawaban, “Kamu benar-benar ikhlas wahai Nadhlah, sungguh Allah akan mengharamkan jasadmu dari api neraka!”

BACA JUGA: Awal Mula dikumandangkannya Adzan Jum’at Kedua

Selesai adzan mereka sempat dicekam ketakutan oleh suara tersebut, walau perkataan ghaib itu membenarkan keislaman dan apa yang sedang mereka lakukan.

Maka Nadhlah sebagai pimpinan rombongan pasukan itu berkata, “Wahai hamba Allah, siapakah engkau? Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepadamu. Apakah engkau malaikat, jin atau hamba Allah lainnya? Engkau telah memperdengarkan suaramu kepada kami, maka tunjukkanlah bentuk tubuhmu!! Aku adalah tentara Allah, balatentara Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, dan balatentara Umar bin Khaththab!”

Tiba-tiba muncul seseorang yang sangat tua, berambut dan berjenggot putih, memakai pakaian bulu yang sangat sederhana, dan berkata, “Assalamu ‘ alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh!!”

Nadhlah dan kawan-kawannya berkata, “Wa `alaikassalam warahmatullaahi wabarakaatuh, siapakah engkau ini? Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepadamu.”

Orang tua itu berkata, “Aku adalah Zarnab bin Bar’ala, murid, sahabat dan orang yang sangat dipercaya oleh Nabi Isa. Aku ditempatkan di gunung ini dan didoakan Nabi Isa panjang umur hingga waktunya beliau turun lagi ke bumi dari langit.”

Nadhlah dan kawan-kawannya terheran-heran mendengar perkataannya itu. Kalau melihat begitu tuanya, bisa jadi memang benar perkataannya itu. Tetapi tampak sekali kalau dia masih sangat kuat dan kokoh di balik penampilan ketuaannya, tidak ada tanda-tanda kelemahan sama sekali.

Zarnab berkata lagi, “Karena aku tidak bisa bertemu langsung dengan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, begitu juga dengan Umar bin Khattab, maka sampaikanlah salamku kepadanya, dan sampaikanlah ucapanku ini kepadanya.”

BACA JUGA: Delapan Nasihat dan Kata Mutiara dari Nabi Idris

Zarnab melanjutkan perkataannya, “Wahai Umar, bekerjalah yang keras, karena sesungguhnya hari kiamat telall sangat dekat. Dan sampaikanlah kepada umat Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam, jika nanti telah terjadi peristiwa-peristiwa di antara mereka, apa-apa yang akan aku sampaikan, hendaklah mereka lari, hendaknya mereka menghindari sejauh-jauhnya, jangan sampai terjatuh kepada hal-hal itu.” []

Sumber: Kisah Hikayat Pertemuan Sahabat Nabi Muhammad SAW Dengan Sahabat Nabi Isa AS/Karya: Muhammad Vandestra/2008:

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline