Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Pertahankanlah Rumah-Mu Ya Rabb!

0

Pada suatu hari. Abdul Mutthalib pergi menemui Abrahah. Ketika Abdul Mutthalib ditanya oleh Abrahah tentang maksud kedatangannya. Abdul Multhalib dengan tegas menjawab, “Aku datang kepada tuan untuk meminta kembali unta-untaku yang tuan ambil.”

Abrahah menyatakan keheranannya karena Abdul Mutthalib sebagai penguasa Makkah tidak memikirkan Kabah yang akan dihancurkannya itu. tetapi hanya memikirkan unta-untanya saja. Guna menghilangkan keheranan Raja Yaman itu. Abdul Mutthalib dengan jeLas mengatakan, “Unta-unta yang kalian ambil adalah milikku. Sedang Kabah yang hendak dihancurkan itu mempunyai pemiliknya sendiri yang akan melindungi keselamatannya.”

Itulah pendirian seorang yang benar-benar berketuhanan. Seorang yang hidup di tengah-tengah gelombang penyembahan berhala. Jiwa dan hati nuraninya dikuasai sepenuhnya oleh perasaan halus yang tersembunyi. Ia mengakui dengan haqqul yakin, bahwa di sana terdapat Tuhan Yang Maha Mulia. Maha Agung dan Mahakuasa. Kemurnian iman Abdul Multhalib tampak jelas sekali.

Walaupun ia tahu bahwa di sekitar Kabah terdapat 300 buah lebih berhala, namun tidak kepada sebuah berhala pun ia meminta pertolongan guna menyelamatkan Kabah. la tidak meminta kepada si Hubal, tidak kepada Laat dan tidak pula kepada si Uzza!

Meskipun tidak ada jarak pemisah antara berhala-berhala itu dengan Kabah. Abdul Mutthalib sema sekali tidak sudi meminta sesuatu kepada patung sernbahan jahiliyah itu!

Tidak lain ia hanya memohon kepada Allah tunduk dan khusuk kepada-Nya. serta hanya mau berlindung kepada Yang Maha Agung dan Maha Tinggi. Dengan isyarat yang diberikan oleh perasaan halus yang tersembunyi di dalam hati nuraninya, “Ya Tuhan, tiap orang mempertahankan rumahnya, oleh karena itu pertahankanlah Rumah-Mu.”

Alangkah sederhana dan mantapnya doa seperti itu. Doa Abdul Mutthalib temyata bukan seperti melempar batu ke lubuk. Pukulan yang mematikan dialami oleh balatentara Abrahah. Dengan suatu pasukan yang paling lemah berupa burung-burung Ababil.

Allah Swt menghamburkan mereka. Burung-burung menyebarkan maut di kalangan balatentara Abrahah. Bangkai mereka bergelimpangan menjadi cerita sejarah.

Sifat pasrah diri Abdul Mutthalib kepada Allah seperti di atas seakan-akan kekanak-kanakan. Sungguh tidaklah demikian. Pasrah diri Abdul Mutthalib bukan pasrah diri orang yang sama sekali tak berdaya. Melainkan karena keyakinan imannya, bahwa di sana ada Allah Mahakuasa. Tuhan yang senantiasa berada di belakang setiap gerak dan perbuatan.

Abdul Mutthalib yakin suatu yang tak dapat dilaksanakan dengan kekuatan kebajikan yang adil pada manusia akan ditentukan persoalannya oleh Ia sendiri Yang Mahakuasa. Sungguh suatu kepasrahan yang sangat polos, indah dan murni. Melalui Abdul Multhalib, Allah melimpahkan kemudahan dan keberkahan kepada penduduk Makkah.

Lebih dari satu kali langit dan udara Makkah sedemikian gersangnya. Tidak setetes air hujan pun yang turun membasahi bumi. Hampir saja penduduk mati kekeringan dan dilanda paceklik amat berat. Pada saat yang berat itu, penduduk mendatangi Abdul Mutthalib. Abdul Mutthalib mengajak mereka berbondong-bondong menuju sebuah puncak bukit. Disanalah datangnya rahmat Allah yang mampu menyelamatkan mereka.

Ketika di puncak bukit dengan khusyuk Abdul Mutthalib berdoa, “Ya Tuhan, mereka itu adalah hamba-hamba-Mu. Engkau mengetahui apa yang sedang menimpa kami semua. Oleh karena itu jauhkanlah kegersangan dari kami, turunkanlah hujan membawa rahmat dan berkah menumbuhkan tetanaman, memberi kehidupan dan penghidupan.” []

Sumber: Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a./ Penulis: H.M.H. Al Hamid Al Husaini/ Penerbit: Lembaga Penyelidikan Islam,1981

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline