Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Persiapan Penaklukan Kontantinopel

0 19

Dalam proses persiapan penaklukannya yang agung, Sultan Muhammad Al-Fatih menjalankan beberapa langkah yang mengagumkan sebagai pembuka jalan untuk menaklukkan kota yang sangat terlindungi oleh tembok besar itu, yang kemudian memberikan pengaruh sangat besar dalam mewujudkan keberhasilan sejarah yang besar itu.

Sultan Muhammad Al-Fatih memberikan perhatian dalam membangun benteng Roumli Hishar yang berada di bagian Eropa pada Teluk Bosporus, pada titik tersempit yang berhadapan dengan benteng yang dibangun di masa Sultan Bayazid di daratan Asia.

Imperium Byzantium menghalangi Sultan membangun benteng itu dengan menjanjikan beberapa pemberian. Namun Al-Fatih bersikeras untuk terus membangun benteng itu karena menyadari urgensi posisinya secara militer. Hingga akhirnya benteng yang tinggi dan kokoh itu pun berdiri sempurna, yang ketinggiannya mencapai 82 meter.

Kedua benteng itu pun menjadi dua benteng yang saling berhadapan dan tidak dipisahkan oleh apa pun selain jarak sekitar 660 meter. Kedua benteng itu mengawasi penyeberangan kapal antara sisi Timur Bosporus menuju bagian Baratnya, dan peluru meriam dari benteng itu dapat keluar menahan kapal laut manapun untuk sampai ke Konstantinopel dari berbagai kawasan yang terletak di sebelah Timurnya, seperti Kerajaan Tharabazun dan tempat-tempat lainnya yang dapat membantu kota tersebut saat dibutuhkan.

Sultan juga memberikan perhatian khusus dalam pengumpulan senjata-senjata yang dibutuhkan untuk menaklukkan Konstantinopel. Salah satunya yang paling urgen adalah penyiapan meriam-meriam. Hal ini mendapatkan perhatian khusus dari beliau hingga beliau mendatangkan seorang teknisi bernama Ourban (Urban) yang sangat ahli dalam membuat meriam. Sultan menyambutnya dengan sangat baik dan menyediakan semua kebutuhan biaya, bahan dan sumber daya manusia yang dibutuhkannya. Sang teknisi pun berhasil merancang dan menciptakan beberapa meriam besar, di antaranya adalah Meriam Sultan yang masyhur itu, yang konon beratnya mencapai ratusan ton dan membutuhkan 100 ekor banteng untuk menariknya. Sultan sendirilah yang langsung mengawasi pembuatan dan ujicoba meriam-meriam ini.

Ditambah lagi dengan upaya keras Al-Fatih memberikan perhatian khusus terhadap armada laut Utsmani, di mana ia berusaha untuk memperkuatnya dan membekalinya dengan berbagai model kapal agar kompatibel untuk menjalankan perannya menyerang Konstantinopel; kota laut yang tidak mungkin dapat dikepung tanpa adanya kekuatan armada laut yang menjalankan misi ini. Telah dicatat bahwa jumlah kapal laut yang disiapkan untuk ini mencapai lebih dari 400 kapal laut.

Sebelum penyerangan terhadap Konstantinopel, Al-Fatih juga mengadakan berbagai perjanjian dan kesepakatan damai dengan musuh-musuhnya yang berselisih, agar ia dapat berkonsentrasi menghadapi satu musuh.

Related Posts

Ia misalnya mengadakan perjanjian damai dengan Kerajaan Goltic yang berdampingan dengan Konstantinopel di sebelah timur dan hanya dipisahkan oleh Terusan Tanduk Emas. Ia juga mengadakan perjanjian damai dengan Genoa dan beberapa kerajaan kecil Eropa yang berdampingan.

Namun semua perjanjian itu tidak bertahan ketika penyerangan benar-benar dilaksanakan terhadap Konstantinopel, karena semua kekuatan yang berasal dari kota-kota tersebut dan juga kota-kota lainnya tetap berdatangan untuk melindungi Konstantinopel, disebabkan kesamaan ideologi mereka dengan Kaum Kristen dan melupakan perjanjian dan kesepakatan mereka dengan kaum muslimin.

Di saat itulah, di saat Sultan sedang menyiapkan bekal untuk penaklukan, Kaisar Byzantium kembali berusaha mati-matian untuk menghalangi Sang Sultan dari niatnya dengan mengirimkan uang dan beragam hadiah. Bahkan dengan memberi suap kepada sebagian penasehatnya agar mempengaruhi keputusan Sultan. Namun Sultan telah bertekad untuk menjalankan rencananya. Semua upaya itu tidak menghalanginya untuk mencapai tujuannya.

Tatkala Kaisar Byzantium melihat kekuatan tekad Sultan untuk tetap melaksanakan rencananya, ia segera meminta bantuan dari berbagai negara dan kota Eropa, terutama sekali Paus sebagai pemimpin tertinggi Katolik, meskipun gereja-gereja Byzantium pada waktu itu termasuk Konstantinopel mengikuti aliran gereja Ortodoks –bahkan keduanya (Katolik dan Ortodoks) terlibat dalam permusuhan yang sengit. Kaisar terpaksa melakukan basa-basi dengan Paus dengan mendekati dan menampakkan kesiapannya untuk bekerja menyatukan Gereja Ortodoks Timur agar mau tunduk kepada Paus. Padahal Ortodoks sendiri tidak pernah mau melakukan itu.

Atas dasar itu, Paus kemudian mengirim perwakilannya ke Konstantinopel. Utusan itu menyampaikan khutbahnya di Aya Shophia dan menyerukan persatuan kedua aliran gereja tersebut; suatu hal yang menyebabkan kemarahan pengikut Ortodoks di kota itu dan mengakibatkan mereka melakukan gerakan perlawanan terhadap upaya penyatuan ala Imperium Katolik Bersatu tersebut. Bahkan sebagai pemimpin Kristen Ortodoks mengatakan: “Aku lebih suka menyaksikan sorban-sorban bangsa Turki berkeliaran di Byzantium daripada harus menyaksikan topi bangsa Latin!” []

Sumber: Muhammad Al-Fatih Penakluk Konstantinopel/ Penulis: Syaikh Ramzi Al-Munyawi/ Penerbit: Pustaka Al-kautsar, 2012

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline