Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Perkembangan Al-Qur’an dari Arab Gundul sampai Digunakannya Harakat (Bagian 2)

0

Al-Quran adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam melalui malaikat Jibril as. Sejarah penurunannya selama kurang lebih 23 tahun secara berangsur-angsur telah memberi kesan yang sangat besar dalam kehidupan seluruh manusia.

B. Pengumpulan Al-Qur’an pada Masa al-Khulafā’ al-Rasyidūn

1. Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam berpulang ke rahmatullah setelah beliau selesai menyampaikan risalah dan menyampaikan amanat serta memberi petunjuk kepada umatnya untuk menjalankan agama yang lurus. Abu Bakar menjalankan urusan Islam sesudah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Ia dihadapkan kepada peristiwa-peristiwa besar berkenaan dengan kemurtadan sebagian orang Arab. Karena itu ia segera menyiapkan pasukan dan mengirimkannya untuk memerangi orang-orang yang murtad itu.

Peperangan Yamamah yang terjadi pada tahun dua belas Hijriah melibatkan sejumlah besar sahabat yang hapal Al-Qur’an . Dalam peperangan ini tujuh puluh qari dari para sahabat gugur. Umar bin Khattab marasa sangat khawatir melihat kenyataan ini, lalu ia menghadap Abu Bakar dan mengajukan usul kepadanya agar mengumpulkan dan membukukan Al-Qur’an karena dikhawatirkan akan musnah, sebab peperangan Yamamah telah banyak membunuh para qari.

Pada awalnya, Abu Bakar merasa ragu. Namun, setelah dijelaskan oleh Umar tentang nilaiNashar bin ‘Ashim dan Yahya bin Ma’mur, -nilai positifnya, ia menerima usul tersebut. Dan Allah melapangkan dada Abu Bakar untuk melaksanakan tugas yang mulia tersebut. Ia mengutus Zaid bin Tsabit dan menyuruhnya agar segera menangani dan mengumpulkan Alquran dalam satu mushaf. Mula-mula Zaid pun merasa ragu, kemudian ia pun dilapangkan Allah sebagaimana halnya Allah melapangkan dada Abu Bakar dan Umar.

2. Pengumpulan Al-Qur’an pada masa Utsman bin Affan

Latar belakang pengumpulan Al-Qur’an pada masa usman berbeda dengan faktor yang ada pada masa Abu Bakar. Masa kekhalifahan Usman bin Affan, pengumpulan Al-Qur’an dilatar belakangi antara lain, meluasnya daerah islam dan semakin banyaknya umat memeluk agama islam secara berbondong-bondong. Dan terpisah-pisahnya para sahabat di berbagai daerah kekuasaan dan dari merekalah masyarakat mempelajari Al-Qur’an. Dan tidak diragukan lagi terjadi perbedaan dalam cara membaca Al-Qur’an.

Seperti penduduk Syam membaca dengan qiraat Ubai bin ka’ab, penduduk kuffah membaca dengan Qiraat Abdullah bin Mas’ud dan yang lain memakai qiraat Abu musa Al-as’ari. Perbedaan ini membawa kepada pertentangan dan perpecahan di antara merteka sendiri. Bahkan sebagian mereka mengkafirkan sebagian yang lain.

Inisiatif Usman bin Affan untuk segera membukukan dan menggandakan Al-Qur’an muncul setelah ada usulan dari Khuzaifah. Kemudian, Khalifah Usman bin Affan yang isinya meminta agar Hafshah mengirimkan mushaf yang disimpannya untuk disalin kembali menjadi beberapa mashaf. Setelah itu, Khalifah Usman bin Affan memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin ‘Ash, dan Abdurrahman bin Harits untuk bekerjasama menggandakan Al-Qur’an. Usman bin Affan berpesan bahwa “Jika terjadi perbedaan di antara kalian mengenai Al-Qur’an, tulislah menurut dialeg Quraisy karena Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa mereka.”

Kesimpulan: Perbedaan antara pengumpulan mushaf Abu Bakar dan Usman adalah, pada masa Abu Bakar adalah bentuk pemindahan dan penulisan Al-Qur’an kedalam satu mushaf yang ayat-ayatnya sudah tersusun, berasal dari tulisan yang terkumpul dari kepingan-kepingan batu,pelepah-pelepah korma dan kulit binatang, adapun latarbelakangnya karena banyaknya huffazh yang gugur.

Sedangkan, pengumpulan Al-Qur’an pada masa Usman menyalin kembali yang telah tersusun pada masa Abu Bakar, dengan tujuan untuk dikirimkam keseluruh Negara Islam. Latar belakangnya adalah disebabkan karena adanya perbedaan dalam hal membaca Al-Qur’an.

C. Pemeliharaan Al-Qur’an Pasca al-Khulafa al-Rasyidun

Sejak Mushaf Al-Qur’an masuk ke kota-kota besar, kaum muslimin menerima dengan menyalinnya. Dan mereka menyalinnya dengan jumlah yang cukup banyak dan tidak ada keraguan.

Ketika membaca tulisan Al-mas’udi, di sana membicarakan tentang perang Shiffin yang terjadi antara Ali dengan Muawiyah dan yang diisyaratkan oleh Amr bin ‘Ash dalam mengangkat Mushaf ketika terasa olehnya akan kemenangan Ali atasnya, dimana 500 Mushaf diangkat dari laskar muawiyah.

Banyak yang tidak menduga kaum muslimin saat itu mempunyai mushaf sejumlah itu. Dugaan waktu itu apa yang ada pada mereka tidak mencapai jumlah sebanyak itu, karena Usman menulis mushaf Al-Imam dan mengirimkannya ke kota-kota besar dengan jumlah sangat sedikit sekali. Namun demikian Usman memberikan kesempatan kepada kaum muslimin untuk menulis Al-Qur’an sebanyak-banyaknya dengan berpedoman kepada mushaf Al-Imam.

Ketika wilayah Islam sudah semakin luas dan menjangkau daerah non Arab, seperti Turki, India, Persia, Afrika dan Timur Jauh, kesulitan membaca Al-Qur’an berkenaan dengan mushaf tanpa tanda baca semakin terasa. Suatu ketika seorang non Arab membaca surat At Taubah (9):3 “Sesungguhnya Allah dan Rasulnya berlepas diri dari orang-orang musyrik”

Namun dibaca dengan:

“Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan Rasul-Nya”

Perbedaan bacaan ini terjadi karena tidak adanya tanda baca. Ini memperlihatkan bahwa perbedaan bacaan bisa menimbulkan perbedaan makna yang sangat besar, dan ini sangat berbahaya bagi perjuangan kebenaran. Berangkat dari kenyataan ini Khalifah Marwan (685-705 M) memerintahkan ulama besar Al-Hajjaj binYusuf as- Saqati untuk segera memberI tanda baca (Syakal) pada Al-Qur’an. Tanda baca hasil karya al-Hajjaj ini kemudian distandarkan penggunaannya. Dalam menyelesaikan proyek besarnya, ia dibantu Nashar bin ‘Ashim dan Yahya bin Ma’mur, dua murid tersohor Abu al-Aswad ad-Duwali.

Perbaikan bentuk penulisan tidak terjadi sekaligus, tetapi terjadi secara berangsur-angsur mengalami perkembangan dari generasi ke generasi hingga mencapai puncak keindahan dan kesempurnaannya akhir abad III H. Sehingga menurut Abu ‘Amar ad Dani bahwa tidaklah benar kalau ada yag mengatakan barwa Abul Aswad ad-Duwali secara sendiri-sendiri meletakkan kaedah syakal dan titik dalam penulisan Alquran.

Az-Zakarsyi dalam al-Burhān mengatakan bahwa Abul Aswad ad-Duwali dikenal karena dialah yang pertama kali meletakkan kaedah tata bahasa Arab atas perintah Khalifah Ali bin Abi Thalib.

Sedangkan menurut As-Suyuthi bahwa sebagian jumhur berpendapat bahwa Abul Aswad ad Duali membuat tanda baca berupa titik tersebut atas instruksi dari khalifat Abdul Malik bin Marwan. Sehingga menurut sebagian ulama, penemuan akan cara penulisan Al-Qur’an dengan huruf-huruf bertitik adalah melanjutkan tradisi yang pernah dilakukan oleh Abul Aswad ad-Duali.

Hal-hal baru yang pada mulanya tidak disukai dan dianggap Bid’ah oleh para ulama, tetapi kemudian dianggap baik adalah penulisan tanda-tanda pada setiap awal surat, peletakkan tanda-tanda yang memisahkan ayat-ayat dan pembagian Al-Qur’an ke dalam juz-juz tersebut. Semua yang dilakukan itu adalah sebuah usaha dan kerja yang sangat mulia dan akan mendapatkan ganjaran dari Allah swt.

Al-Qur’an pertama kali di cetak di kota Bunduqiyah (Venesia, Italia Utara), tahun 1530 M. Kemudian tahun 1694 M Hinkelman mencetak Al-Qur’an di Hambourg Jerman dan berikutnya Marraci pada tahun 1698 M di kota Padoue (Italia Utara).

Waktu itu belum ada percetakan dalam dunia Islam, baru pada tahun 1787 berdirilah percetakan Islam di kota Saint petersbourg Rusia didirika Maulaya Usman (Sultan Ottoman Turki). Kemudian pada tahun 1342 H (1923) muncul Al-Qur’an mungil dan halus dicetak di Mesir dibawah pengawasan Syeikh Al-Azhar, yang disahkan oleh Raja Fuad I. []

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline