Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Perjalanan Hidup Ummahatul Mukminin Pertama (Bagian 3)

Khadijah binti Khuwailid adalah sebaik-baik wanita ahli surga. Ini sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, “Sebaik-baik wanita ahli surga adalah Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid.”

BACA JUGA: Perjalanan Hidup Ummahatul Mukminin Pertama (Bagian 1)

F. Pada Masa Kenabian Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam

Muhammad bin Abdullah hidup berumah tangga dengan Khadijah binti Khuwailid dengan tenteram di bawah naungan akhlak mulia dan jiwa suci sang suami. Ketika itu, Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam menjadi tempat mengadu orang-orang Quraisy dalam menyelesaikan perselisihan dan pertentangan yang terjadi di antara mereka.

Hal itu menunjukkan betapa tinggi kedudukan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam di hadapan mereka pada masa prakenabian. Beliau menyendiri di Gua Hira, menghambakan diri kepada Allah yang Maha Esa, sesuai dengan ajaran Nabi Ibrahim a.s.

Khadijah sangat ikhlas dengan segala sesuatu yang dilakukan suaminya dan tidak khawatir selama ditinggal suaminya. Bahkan, dia menjenguk serta menyiapkan makanan dan minuman selama beliau di dalam gua, karena dia yakin bahwa apa pun yang dilakukan suaminya merupakan masalah penting yang akan mengubah dunia. Ketika itu, Nabi Muhammad berusia empat puluh tahun.

Suatu ketika, seperti biasanya beliau menyendiri di Gua Hira –waktu itu bulan Ramadhan. Beliau sangat gemetar ketika mendengar suara gaib Malaikat Jibril memanggil beliau.

Malaikat Jibril menyuruh beliau membaca, namun beliau hanya menjawab, “Aku tidak dapat membaca.”

Read More

Akhirnya, Malaikat Jibril mendekati dan mendekap beliau ke dadanya, seraya berkata, “Bacalah, wahai Muhammad!”

Ketika itu Nabi Muhammad sangat bingung dan ketakutan, seraya menjawab, “Aku tidak dapat membaca.”

Mendengar itu, Malaikat Jibril mempererat dekapannya, dan berkata, “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang mencipta-kan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu-lah Tang Maha Mulia. Dia mengajari manusia dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan segala sesuatu yang belum mereka ketahui.”

Nabi Muhammad mengikuti bacaan tersebut. Keringat deras mengucur dari seluruh tubuhnya sehingga beliau kepayahan dan tidak menemukan jalan menuju rumah. Khadijah melihat beliau dalam keadaan terguncang seperti itu, kemudian memapahnya ke rumah, serta berusaha menghilangkan ketakutan dan kekhawatiran yang memenuhi dadanya.

“Berilah aku selimut, Khadijah!”

BACA JUGA: Perjalanan Hidup Ummahatul Mukminin Pertama (Bagian 2)

Beberapa kali beliau meminta istrinya menyelimuti tubuhnya. Khadijah memberikan ketenteraman kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan segala kelembutan dan kasih sayang sehingga beliau merasa tenteram dan aman. Beliau tidak langsung menceritakan kejadian yang menimpa dirinya kepada Khadijah karena khawatir Khadijah menganggapnya sebagai ilusi atau khayalan beliau belaka. []

Sumber: Istri Rasulullah Contoh dan Teladan/Karya: Amru Yusuf/Penerbit: Gema Insani,1997

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline