Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Perjalanan Hidup Ummahatul Mukminin Pertama (Bagian 6)

Khadijah binti Khuwailid adalah sebaik-baik wanita ahli surga. Ini sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, “Sebaik-baik wanita ahli surga adalah Maryam binti Imran dan Khadijah binti Khuwailid.”

I. Masa Berdakwah Terang-terangan

Setelah berdakwah secara-secara sembunyi-sembunyi, turunlah perintah Allah kepada Rasulullah untuk memulai dakwah secara terang-terangan.

BACA JUGA: Saat Utbah bin Rabiah Mengajukan Tawaran-tawaran untuk Menghentikan Dakwah Nabi

Karena itu, datanglah beliau ke tengah-tengah umat seraya berseru lantang, “Allahu akbar, Allahu akbar… tiada Tuhan selain Allah, tiada sekutu bagi-Nya, Dia tidak melahirkan, juga tidak dilahirkan.”

Seruan beliau sangat aneh terdengar di telinga orang-orang Quraisy. Muhammad memanggil manusia untuk beribadah kepada Tuhan yang satu, bukan Laata, Uzza, Hubal, Manat, serta tuhan-tuhan lain yang memenuhi pelataran Ka’bah. Tentu saja mereka menolak, mencaci maki, bahkan tidak segan-segan menyiksa Rasulullah. Setiap jalan yang beliau lalui ditaburi kotoran hewan dan duri.

Khadijah tampil mendampingi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam dengan penuh kasih sayang, cinta, dan kelembutan. Wajahnya senantiasa membiaskan keceriaan, dari bibirnya meluncur kata-kata jujur. Setiap kegundahan yang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam lontarkan atas perlakuan orang-orang Quraisy selalu didengarkan oleh Khadijah dengan penuh perhatian untuk kemudian dia memotivasi dan menguatkan hati Nabi.

Bersama Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, Khadijah turut menanggung kesulitan dan kesedihan, sehingga tidak jarang dia harus mengendapkan perasaan agar tidak terekspresikan pada muka dan mengganggu perasaan suaminya. Yang keluar adalah tutur kata yang lemah lembut sebagai penyejuk dan penawar hati. Orang yang paling keras menyakiti Rasulullah adalah paman beliau sendiri, Abdul Uzza bin Abdul Muthalib, yang lebih dikenal dengan sebutan Abu Lahab, beserta istrinya, Ummu Jamil.

Mereka memerintah anak-anaknya untuk memutuskan pertunangan dengan kedua putri Rasulullah, Ruqayah dan Ummu Kultsum. Walaupun begitu, Allah telah menyediakan pengganti yang lebih mulia, yaitu Utsman bin Affan bagi Ruqayah.

Allah mengutuk Abu Lahab dalam firman-Nya, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dan sabut.” (al-Lahab: 1-5)

Khadijah adalah tempat berlindung bagi Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Dari Khadijah, beliau memperoleh keteduhan hati dan keceriaan wajah istrinya yang senantiasa menambah semangat dan kesabaran untuk terus berjuang menyebarluaskan agama Allah ke seluruh penjuru. Khadijah pun tidak memperhitungkan harta bendanya yang habis digunakan dalam perjuangan ini.

BACA JUGA: Perjalanan Hidup Ummahatul Mukminin Pertama (Bagian 5)

Sementara itu, Abu Thalib, paman Rasulullah, menjadi benteng pertahanan beliau dan menjaga beliau dari siksaan orang-orang Quraisy, sebab Abu Thalib adalah figur yang sangat disegani dan diperhitungkan oleh kaum Quraisy. []

Sumber: Istri Rasulullah Contoh dan Teladan/Karya: Amru Yusuf/Penerbit: Gema Insani,1997

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline