Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Pemboikotan yang Dirajut Orang-Orang Penentang Zaman,

0 43

Paman Nabi, ialah Abu Thalib yang menjadi pengasuh dan pemelihara beliau sejak kanak-kanak sampai dewasa. Dalam waktu yang amat panjang. Abu Thalib menyaksikan sendiri bagaimana praktek kehidupan Nabi sehari-hari. Abu Thalib rindu sekali ingin melihat hakekat kebenaran yang dibawa Nabi. Hatinya pedih dan kesal menyaksikan kaumnya menyia-nyiakan akal fikiran dan hidup mereka di depan tumpukan batu yang dianggapnya sebagai sesembahan dan tuhan-tuhan.

Dengan tangguh Abu Thalib menghadapi tantangan-tantangan kafir Quraisy serta menggagalkan rencana-rencana jahat yang mereka tujukan terhadap Nabi. Ketika orang-orang kafir Oureiys sudah merasa putus asa dan tidak sanggup lagi membendung dakwah risalah Nabi dan tidak berdaya lagi menggertak Abu Thalib supaya menghentikan perlindungan dan pembelaannya kepada Nabi, maka tokoh-tokoh mereka mengambil keputusan, melancarkan blokade dan pemboikotan total terhadap semua orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib.

Blokade dan pemboikotan total yang demikian itu adalah cara-cara yang di cela oleh tradisi dan moral bangsa Arab sendiri. Tetapi bagi kaum kafir Quraisy itu bukan soal yang penting tujuan harus tercapai. Segala cara atau jalan mereka halalkan demi tujuan. Blokade kafir Quraisy itu ternyata lebih mendorong orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib untuk bertambah cenderung dan berpihak kepada Abu Thalib.

Orang-orang Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib berhimpun dalam sebuah Syrib (lembah di antara dua bukit). Dengan semangat baja mereka hadapi kepungan ketat serta pemboikotan total di bidang ekonomi dan sosial. Selama lebih kurang 3 tahun mereka menahan penderitaan dan kelaparan. Mereka sampai terpaksa menelan dedaunan sekedar untuk mengganjel perut yang lapar.

Selama masa yang penuh derita dan sengsara itu. Abu Thalib tetap tegak berdiri laksana gunung raksasa yang kokoh-kuat, tak tergoyahkan oleh gelombang badai dan tiupan angin ribut. Dengan tegas Abu Thalib menolak setiap kompromi dan tawar-menawar yang diajukan oleh orang-orang kafir Quraisy. Penolakkannya itu diucapkan dengan bait-bait syair.

“Sadarlah kalian, sadarlah,
Sebelum banyak liang digali orang,
Dan orang-orang tak bersalah diperlakukan,
Sewenang-wenang janganlah kalian ikuti perintah orang jahat
Tiada berakhlaq untuk memutuskan tali persahabatan dan persaudaraan dengan kita.
Demi tuhan penguasa kabah,
Kami tak akan menyerahkan muhammad ke dalam marabahaya
Yang dirajut orang-orang penentang zaman,
Sebelum terbedakan mana leher kami dan mana leher kalian,
Dan sebelum tangan berjatuhan ditebas pedang mengkilat tajamnya…”

Benarlah, jika Abu Thalib sudah mempercayai suatu kebenaran. kepercayaannya itu benar-benar keras dan mantap. Sekeras dan sernantap kepercayaan yang diwariskan kepada putera bungsunya. Ali bahkan sampai kepada anak cucu keturunan Ali. []

Sumber: Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a./ Penulis: H.M.H. Al Hamid Al Husaini/ Penerbit: Lembaga Penyelidikan Islam,1981

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline