Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Pedang dan Perang yang Menjadi Jarak

Ali bin Abi Thalib telah berusaha untuk terus melayangkan surat dalam rangka melakukan rekonsiliasi guna mencari jalan keluar dari konfrontasi militer, bahkan ia telah membuka beberapa kanal yang dapat menampung maksud Mu’awiyah agar tetap setia pada bai’atnya.

Namun demikian, Mu’awiyah bersikeras untuk memeranginya. la mantap dengan niatnya untuk menghancurkan Ali dan pasukannya dengan segala cara. Melihat itu, Ali bin Abi Thalib belum putus asa untuk tercapainya perdamaian kedua pasukan.

Setelah menguasai sungai Efrat, ia mengusulkan agar dilakukan gencatan senjata sementara. Dan ia memanfaatkan kondisi ini dengan mengirim beberapa utusan kepada Muawiyah. Para utusan itu adalah Basyir bin Muhsin Anshari, Sald bin Qais Hamadani dan Syabts bin Rubi Tamimi.

Read More

Umar Bin Abdul Aziz Ingin Seperti Kakeknya

Ali bin Abi Thalib berpesan kepada mereka, “Temui lelaki itu (Muawiyah) dan ajaklah ia kepada Allah, ketaatan dan jamaah (persatuan)!”

Namun, jawaban Mu’awiyah lagi-lagi pedang dan perang. Kepada para utusan itu, ia berkata, “Enyahlah kalian dari sisiku. Antara kita tidak ada lagi yang tersisa selain pedang.” []

Sumber: Teladan Abadi Amirul Mukminin Ali Bin Abi Thalib / Penulis: Sayid Mundzir Al Hakim/ Penerbit: Al-Huda

Artikel Terkait :

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More