Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Nabi Musa: Aku Tidak Menemukan Seorang pun yang Aku Lebih Baik daripadanya

0

Suatu hari, Allah Swt berfirman kepada Nabi Musa a.s, “Hai Musa, jika nanti kau akan bertemu dengan-Ku lagi, bawalah seseorang yang menurutmu kamu lebih baik daripada dia.”

Nabi Musa a.s. lalu pergi ke mana-mana — ke jalanan, pasar, dan tempat-tempat ibadah. la selalu menemukan dalam diri setiap orang itu suatu kelebihan dari dirinya. Mungkin dalam beberapa hal yang lain, orang itu lebih jelek daripada Nabi Musa, tetapi Nabi Musa selalu menemukan ada hal pada diri orang itu yang lebih baik daripada dirinya.

Nabi Musa tidak mendapatkan seorang pun yang terhadapnya Nabi Musa dapat berkata, “Aku lebih baik daripada dia.”

Karena gagal menemukan orang itu, Nabi Musa masuk ke tengah-tengah binatang. Dalam diri binatang pun ternyata selalu ada hal-hal yang lebih baik daripada Nabi Musa. Seperti kita ketahui, burung Merak, misalnya, bulunya jauh lebih bagus daripada bulu manusia. Sampai akhirnya Nabi Musa melewati seekor anjing kudisan.

Nabi Musa berpikir, “Mungkin sebaiknya aku pergi membawa dia.”

la pun lalu mengikat leher anjing itu dengan tali. Namun ketika sampai ke suatu tempat, Nabi Musa melepaskan anjing itu.

Ketika Nabi Musa datang untuk bermunajat lagi di hadapan Allah Swt, Tuhan bertanya, “Ya Musa, mana orang yang Aku perintahkan kepadamu untuk kaubawa?”

Nabi Musa menjawab, “Tuhanku, aku tidak menemukan seorang pun yang aku lebih baik daripadanya.”

Allah Swt lalu berfirman,”Demi keagungan-Ku dan kebesaran-Ku, sekiranya kamu datang kepadaku dengan membawa seseorang yang kamu pikir kamu lebih baik daripadanya, Aku akan hapuskan namamu dari daftar kenabian.”

Kata ana khairun minhu atau “Aku lebih baik daripada dia” pertama kali diucapkan oleh Iblis untuk menunjukkan ketakaburannya. Tuhan menyuruhnya untuk sujud kepada Nabi Adam a.s., tapi Iblis tidak mau.

la beralasan, “Aku lebih baik daripada dia. Kau ciptakan aku dari api, dan Kau ciptakan dia dari tanah.”

Takabur yang dilakukan oleh Iblis pertama kali itu adalah taka bur karena nasab, takabur karena keturunan. []

Sumber: The Road to Allah, Tahap-Tahap Perjalanan Ruhani Menuju Tuhan/Penulis: Jalaluddin Rakhmat/Penerbit: Mizan

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline