Picture: Freepik

Mush’ab yang Baik

Bapaknya adalah ‘Umair bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Abdi Dar bin Qusyaiy bin Kilab. Dari jalur kakeknya, nasab Mush`ab menyambung kepada Rasulullah. Mush’ab bin `Umair adalah seorang pemuda Makkah yang terkenal sebagai remaja berwajah tampan, tegap, dan murah senyum. Dia termasuk Assithiqiin fit Islam. Dia bergelar Abu Muhammad, sedangkan laqabnya adalah Mush`ab Al-Khair, “Mush’ab si Baik”.

Mush’ab termasuk salah seorang yang hijrah ke Habsyi. Nabi mengutusnya ke Madinah sebagai mubalig, mu’allim, dan mursyid. Berkat dakwah Mush`ab bin Umair, banyak kabilah Anshar yang masuk Islam.

Dia ikut bersama Nabi dalam Perang Badar. Pada Perang Uhud, Nabi memberinya bendera pasukan. Dia gugur sebagai seorang syuhada pada Perang Uhud. Pada umumnya, orang yang masuk Islam kebanyakan miskin, para mustadhialin, yang berasal dari keluarga sengsara, kecuali Mush`ab bin `Umair. Mush’ab adalah anak seorang keluarga elite. Orangtuanya kaya raya. Ibunya sangat sayang kepadanya sehingga dia selalu diberi pakaian yang bagus-bagus dan indah-indah.

Ketika Mush’ab masuk Islam, ibunya marah-marah dan tidak mau menerimanya lagi. Dia diusir dari rumah. Ibunya pun pernah mogok makan dan hanya mau makan bila Mush`ab bin `Umair kembali lagi memeluk agamanya semula. Tetapi, Mush`ab bin Umair bertahan dan akhirnya sang ibu menghentikan mogok makannya.

Mush`ab bin `Umair sangat mencintai ibunya, tetapi dia lebih mencintai Islam. Dia mendahulukan kesetiaan kepada Islam daripada kesetiaan kepada keluarganya. Umar bin Khaththab meriwayatkan kisah Mush’ab dalam sebuah hadis berikut: “Pada suatu hari, Rasulullah melihat Mush’ab bin ‘Umair di Madinah. Mush’ab datang dengan pakaian compang-camping, sebagian pakaiannya dijahit dari kulit domba. Rasul menangis, lalu bersabda kepada para sahabatnya, ‘Lihat, itulah orang yang telah Allah sinari hatinya…

Ali bin Abi Thalib berkata, “Suatu hari, kami duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid. Lalu muncullah Mush’ab bin Umair dengan mengenakan kain burdah yang kasar dan memiliki tambalan. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau pun menangis teringat akan kenikmatan yang ia dapatkan dahulu (sebelum memeluk Islam) dibandingkan dengan keadaannya sekarang…” (HR. Tirmidzi) []

Sumber: The Road to Muhammad/ Jalaludin Rakhmat/Mizan/ Bandung/ 2009

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline