Foto: Dry Icons

Mush’ab bin Umair, Menjual Semua Kenikmatan Dunia untuk Akhiratnya

 

Nabi bersabda: “Aku belum pernah melihat orang di Mekkah yang berambut lebih rapi, berpakaian paling bagus, dan sebagian besar diberi kenikmatan, selain daripada Mush’ab bin Umair.” (HR Hakim)

Mush’ab bin Umair adalah keturunan pemuda kaya Quraisy, nama lengkapnya adalah Mush’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdud Dar bin Qushay bin Kilab al-Abdari al-Qurasyi.

Mush’ab bin Umair yang hidup dalam ketidaktahuan, penyembah berhala, pecandu khamr, menggemari nyanyian, namun Allah memberikan setitik cahaya di dalam hatinya, sehingga dia bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dia bertekad untuk memeluk Islam. Dia mendatangi Nabi di rumah al-Arqam dan menyatakan masuk Islam.

Kemudian Mush’ab bin Umair menyembunyikan keislamannya dari –teman-temannya. Hal itu dilakukan untuk menghindari intimidasi dari kaum Quraisy. Dalam keadaan yang sulit, ia terus menghadiri majelis Nabi untuk menambah pengetahuannya tentang agama baru yang dipeluknya. Nabi menjadikannya sebagia seseorang yang sangat pintar. Kemudian Nabi mengirimnya ke Madinah untuk berdakwah.

Tapi, Mush’ab harus menghadapi penentangan ibunya. Ibunya marah dan memberinya hukuman. Tidak ada lagi kenikmatan hidup bagi Mush’ab. Ia harus hidup tanpa fasilitas khusus dari keluarganya lagi. Apakah itu membuat Mush’ab menyerah? Tidak. Dia menerima apa yang diberikan keluarganya padanya. Di dalam hatinya hanya berpikir bagaimana mendapatkan cinta Allah dengan imannya. Dia menjual seluruh dunianya hanya untuk mendapatkan kehormatan.

Di akhir hayatnya, Mush’ab meninggal dengan hanya kain kafan yang tidak cukup untuk menutupi tubuhnya. Meskipun kita tahu bahwa dia berasal dari keluarga kaya. Harga kafan itu tentu tidak mahal pada saat itu.

Pelajaran dari Kisah Mush’ab bin Umair

Segala sesuatu di dunia ini hanya untuk sementara waktu. Kita harus mengingat apa tujuan Allah menciptakan kita. Kita perlu mengintrospeksi diri kita. Sudahkah kita melakukan semua yang Allah inginkan? Atau kita puas dengan semua kemewahan dunia. Mush’ab rela meninggalkan kemewahan hidup demi cinta-Nya. Bagaimana dengan kita? []

About Admin 1

Check Also

Teruslah Maju, Wahai Rasulullah

Sa'ad bin Mu'adz, tokoh suku Aus dan pemuka Anshar, berdiri dan berkata, "Demi Allah, benarkah yang engkau maksudkan adalah kami?"

you're currently offline