Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Meski Dia Masih Hidup, Dia Sudah Menjadi Penghuni Surga?

0

Thalhah bin Ubaidillah ra, termasuk dalam 10 orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Pastinya banyak kemuliaan pada dirinya. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam memberi banyak gelar pada Thalhah karena kebaikan yang dimilikinya. Di antaranya adalah Thalhah si Baik Hati, Thalhah si Pemurah, dan Thalhah si Dermawan.

Thalhah beriman di masa-masa awal Islam datang. Saat itu sepulang dari perjalanan bisnisnya, Thalhah bertemu seorang pendeta di daerah Bushra. Pendeta itu memberi nasihat pada Thalhah akan kedatangan Nabi di Mekkah. Sang pendeta juga mewanti-wanti agar Thalhah menjadi pengikut Nabi, karena itulah yang akan membuat hidupnya penuh dengan petunjuk, rahmat, dan kebebasan.

Setibanya di Mekkah, Thalhah langsung menemui Abu Bakar. Sepanjang perjalanan pulang dia sudah mendengar bahwa Muhammad Al-Amin sudah menyatakan dirinya sebagai Nabi dan Rasul Allah Swt. Saat mengetahui Abu Bakar sudah bergabung dalam barisan Rasulullah, Thalhah pun makin yakin akan pilihannya.

“Muhammad tidak pernah sekali pun berbohong. Dan, kini di belakangnya ada Abu Bakar. Pasti ini urusan yang benar, bukan suatu kebohongan,” gumam Thalhah serius.

Ditemani Abu Bakar ra., Thalhah menemui Rasulullah. Dengan penuh keyakinan dia menyatakan keimanannya. Sejak itu, Thalhah pun tak luput dari siksaan. Kaum Quraisy me-nunjuk Naufal bin Khuwailid untuk menganiaya dan mengancam Thalhah serta Abu Bakar. Untunglah, penyiksaan itu tidak berlangsung lama. Ternyata orang-orang Quraisy merasa malu sekal igus takut. Malu karena sudah berbuat layaknya orang yang tidak berpendidikan, dan takut mengingat pengaruh dua tokoh sahabat ini.

Ketika peristiwa hijrah, Thalhah pun pergi ke Madinah. Dia bertekad akan mengikuti setiap perjuangan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Sayang, di perang Badar Thalhah tidak ikut serta karena mendapat tugas lain dari Rasulullah bersama Sa’id bin Zaid. Meski sedih, Thalhah bisa menerima dan menggantinya di perang-perang yang lain.

Karena tidak melaksanakan perintah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, pasukan Islam yang tadinya unggul di perang Uhud langsung berada dalam kondisi terdesak. Pasukan musuh berhasil menyudutkan pasukan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam.

Bahkan kondisi Rasulullah pun dalam bahaya. Mel ihat hal itu Thalhah langsung maju menyerang de-ngan semangat. Hasilnya, di tubuhnya terdapat hampir 70 luka tusukan tombak, sabetan pedang, dan panah yang menancap.

“Barang siapa yang suka melihat seorang laki-laki yang masih berjalan di muka bumi, padahal dia telah memberikan nyawanya kepada Allah, hendaknya ia melihat Thalhah.”

Puji Rasulullah sambil menunjuk sosok Thalhah.

Alangkah bahagia Thalhah mendapat penghargaan setinggi itu dari Rasul.

Bukankah itu berarti meski dia masih hidup, dia sudah menjadi penghuni surga?

Hal itu membuat Thalhah semakin semangat beramal shaleh, meski dia sudah tahu akhir hidupnya berada dalam kebaikan. Sejak muda, Thalhah dikenal sebagai pebisnis ulung. Dia juga termasuk dalam jajaran pebisnis sukses yang kaya raya. Namun, banyaknya harta bukannya membuat Thalhah gembira. Dia justru mengeluh sedih dan pusing pada istrinya, Su’da binti Auf.

“Apa yang membuatmu sedih, wahai suamiku?”Tanya Su’da binti Auf ketika melihat wajah sedih suaminya beberapa hari ini.

“Harta yang ada padaku amat banyak. Hingga itu membuatku sedih dan pusing,” jawab Thalhah.

“Janganlah pusing. Bagikan saja harta itu,” ujar Su’da binti Auf.

Thalhah pun langsung memanggil masyarakat di sekitarnya. Semua harta yang ada dibagikan pada orang-orang yang sudah berkumpul. Sampai tak ada sisa sedikit pun.

Menurut Jabir bin Abdullah, Thalhah adalah tipe orang yang sangat pemurah. Dia senang membagikan hartanya tanpa perhitungan. Thalhah juga sangat memperhatikan kesejahteraan dari keluarganya. Bahkan Thalhah membiayai pernikahan anak-anak muda di keluarganya dan mencukupi kebutuhan mereka yang tidak mampu.

Said bin Zaid ra., yang pernah bepergian melaksanakan tugas bersama Thalhah pun pernah berujar, “Aku tidak pernah melihat orangyang begitu pemurah memberikan harta, pakaian, dan makanan, selain dia!” []

Baca juga: Dikalungi Tujuh Lapis Bumi di Hari Kiamat

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline