Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Mereka Pendahulu Bagi Kaumnya yang Masuk ke Neraka Jahannam

0

“Maka Shalih meninggalkan mereka seraya berkata: “Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku, dan aku telah memberi nasehat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasehat.” (Al-A’raf : 79)

Dahulu, kaum Tsamud yang merupakan kaum `Aad yang kedua, tinggal di Al-Hijr dan sekitarnya. Mereka memiliki ternak, ladang, serta kebun yang banyak. Nikmat nikmat terus mengalir kepada mereka. Mereka membangun istana yang dari tanah yang rata, serta rumah-rumah yang kokoh yang dipahat dari gunung.

Akan tetapi, mereka meremehkan nikmat tersebut, mengkufurinya, dan beribadah kepada selain Allah . Allah pun mengutus saudara mereka, Shalih, yang berasal dari kabilah mereka sendiri. Mereka mengenal nasab dan keluarganya, keutamaan dan kesempurnaannya, serta kejujuran dan amanahnya. Beliau mendakwahi mereka kepada Allah mengikhlaskan agama hanya untuk-Nya serta meninggalkan apa yang mereka sembah selain Allah.

Beliau mengingatkan umatnya dengan nikmat-nikmat Allah kepada mereka dan juga dengan hari-hari (ketika Allah mengadzab) umat yang bersebelahan dengan mereka (kaum `Aad). Namun, tiada yang mengikuti beliau kecuali hanya sedikit saja.

Nabi Shalih pun mendatangkan tanda kenabian yang besar sekaligus mukjizat dan bukti, serta nikmat kepada seluruh kabilah. Beliau berkata, “Inilah unta betina dari Allah.”

Namun diantara mereka terdapat sembilan orang yang benar-benar menentang apa yang dibawa oleh Nabi Shalih, mereka pula merupakan setan-setan dari kalangan manusia.

Nabi Shalih melihat kesombongan dan antipati mereka terhadap kebenaran, beliau mengingatkan mereka untuk tidak menyembelih unta tersebut. Maka pertama kali yang dilakukan oleh kesembilan orang tersebut adalah bersepakat untuk menyembelih unta Nabi Shalih.

Ketika Nabi Shalih mengetahui apa yang terjadi, dan melihat pemandangan yang mengerikan itu, beliau tahu bahwa azab telah tetap dan tida dapat dielakkan. Karena kejahatan telah memuncak, tidak ada lagi keadaan yang lurus yang bisa diharapkan pada mereka. Nabi Shalih pun mengatakan kepada mereka, “Bersukarialah kalian semua di rumah selama tiga hari, itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.

Pada masa tenggangnya, kesembilan orang tersebut bersepakat untuk melakuakn perbuatan yang lebih berat dari penyembelihan unta tersebut. Mereka memiliki kesepakatan baru, “Kita harus bersungguh-sungguh menyerangnya secara tiba-tiba beserta keluarganya pada malam hari.”

Namun ketika mereka akan melaksanakan makarnya, maka Allah terlebih dulu membuat makar untuk menyelamatkan Nabi Shalih. Sehingga mereka menjadi pendahulu bagi kaumnya untuk masuk ke neraka jahannam. Allah menjatuhkan batu dari atas gunung sehingga tertindih oleh batu tersebut, sehingga mereka terbunuh dengan cara yang paling naas.

Tatkala telah sempurna tiga hari  yang dijanjikan, datanglah kepada mereka teriakan dari atas mereka dan goncangan dari bawah mereka. Mereka pun mati dan Allah menyelamatkan Nabi Shalih dan Kaum Mukminin yang bersama dengan beliau. []

Sumber: Mutiara Hikmah dari Kisah Para Nabi/ Penulis: Asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashr As-Sady/ Penerbit: Darul Atsar, 2005

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline