Picture: VideoBlocks

Menyesal karena telah Menyusahkan Rasulullah

Panglima perang yang pertama kali dilantik Rasulullah adalah Abdullah bin Jahsy. Ia berasal dari suku Bani Asad. Dilahirkan di Makkah dan tumbuh dewasa di sana. Abdullah bin Jahsy melihat sendiri tatkala orang berbondong-bondong mendatangi Ka’bah dan berdoa di sana. Temasuk peristiwa berebutnya para kabilah Arab yang ingin meletakkan kembali Hajar Aswad ke tempatnya.

Dari kejadian itulah Abdullah bin Jahsy kemudian melihat sendiri bagaimana seorang pemuda bijaksana dapat menyelesaikan permasalahan tersebut. Sesuai kesepakatan para kabilah bahwasanya yang akan meletakkan Hajar Aswad itu ialah orang pertama yang memasuki Ka’bah di keesokan hari. Ketika melihat bahwa pemuda itulah yang menjadi orang pertama, semua kabilah setuju lkarena telah mengenal kebaikan dan kejujuran pemuda tersebut. Pemuda itu tak lain adalah Muhammad.

Rasulullah telah memikat hati penduduk Madinah dengan kearifannya, tak terkecuali Abdullah bin Jahsyi. Ia sangat mengagumi Muhammad dan senantiasa menyertai dan banyak belajar pada beliau.

”Bismillahirrahmanirrahiim. Amma ba’du, pergilah engkau bersama pasukanmu dan berkah Allah akan selalu menyertai kalian. Pergilah hingga nantinya kalian menemukan sebuah ladang kurma dan setelah itu berhentilah di sana. Dari kebun itulah, kalian bisa mengintai kegiatan kafilah Quraisy. Setelah itu, kembalilah dengan membawa kabar tentang keadaan dan situasi mereka.”

Demikian surat yang dibacakan Abdullah bin Jahsy di hadapan pasukannya. Sesuai pesan Rasulullah, pemberi surat tersebut, ia baru boleh membacanya setelah menempuh perjalanan selama dua hari. Bersama pasukannya yang terdiri dari 12 orang, mereka ditugaskan oleh Rasulullah untuk mejalankan sebuah misi.

“Bagaimana menurut kalian?” tanya Abdullah menyerahkan keputusan selanjutnya kepada teman-temannya. Yakni keputusan untuk memilih mundur ataukah melanjutkan misi itu. Sebagaimana yang dipesankan Rasulullah sebelumnya agar tidak ada yang memaksa kawan-kawannya sekiranya ada di antara mereka yang ingin mundur. Tapi rupaya semua sepakat untuk melanjutkan.

Ditengah perjalanan, mereka melihat rombongan kafilah Quraisy. Abdullah bin Jahsyi kemudian mengajak anggotanya untuk berembuk, apakah mereka akan mnyerang kafilah datang tersebut atau membiarkannya begitu saja.

Jika menyerang, sesungguhnya waktu itu tidaklah tepat karena saat itu mereka berada di bulan haram, Rajab. Saat dimana kaum muslimin diharamkan berperang. Sementara, jika membiarkan begitu saja, maka kafilah itu akan memasuki daerah Haram (Makkah) dan setelah itu mereka tidak dapat melakukan apa-apa.

Setelah memperhitungkan berbagai kemungkinan, akhirnya mereka sepakat memutuskan untuk menyerang kafilah tersebut.

Akhirnya mereka dapat mengalahkan rombongan kafilah Quraisy itu, lalu kemudian kembali ke Madinah  dengan membawa harta rampasan perang beserta tawanan.

Rasulullah yang tau akan hal ini sangat menyesalkan perbuatan mereka, bahkan beliau marah karena menugaskan pasukan itu hanya untuk mengintai, dan bukan melakukan penyerangan. Apalagi, kaum Quraisy yang mengetahui kejadian itu langsung menjadikannya alat untuk menjatuhkan Rasulullah dan Kaum Muslimin. Hingga akhirnya mereka terus menyebarkan berita bahwa kaum Muslimin telah menodai kesucian bulan haram.

Abdullah bin Jahsy beserta pasukannya kemudian menyesal dan sangat sedih dengan kenyataan yang ada, ia menyesali itu karena telah menyusahkan Rasulullah dan kaum Muslimin yang lain. Sungguh, ia tidak bermaksud untuk itu.

Akhirnya Allah menurunkan Surah Al-Baqarah sebagai pembelaan-Nya, yang artinya :Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.(QS. Al-Baqarah [2] Ayat : 217). []

 

Sumber: Khazanah Intelektual, Para Abdullah di Sekitar Rasulullah, Sya’ban 1434 H., hal 39, 40,41,42,43.

About Dika Nugraha

Al-Qur'an & As-Sunnah

Check Also

Nabi Ibrahim Hanya Meninggikan Bangunan Kabah, Bukan Membuat Pondasi

Sebenarnya, yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS adalah meninggikan Ka'bah, karena fondasi Ka'bah telah ada sebelumnya.

you're currently offline