Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Menurut Cerita Abu Syuaib Bumi Pernah Berkata

Abu Syuaib Al-Baratsi tinggal dan beribadah dalam sebuah gubuk kecil. Ia adalah orang pertama yang mendiami kota Baratsi. Suatu ketika lewatlah di depan gubuknya seorang gadis, putri salah satu pembesar negeri. Gadis itu dibesarkan dalam lingkungan istana para raja.

Suatu ketika lewatlah di depan gubuknya seorang gadis, putri salah satu pembesar negeri. Gadis itu dibesarkan dalam lingkungan istana para raja. Ia melihat Abu Syuaib. Menurutnya, Abu Syuaib adalah orang yang baik dan ia terpesona oleh perilaku dan tindak tanduk Abu Syuaib. Ia berniat meninggalkan kemewahan dunia dan bertemu dengan Abu Syuaib.

BACA JUGA: Kaum Muslimin yang Mendalami Al-Qur’an Sesudah Para Sahabat

Gadis itu berkata pada Abu Syuaib, “Aku ingin menjadi pelayanmu.”

“Jika begitu, ubah penampilanmu dan tinggalkan kemewahan! Dengan begitu kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan,” kata Abu Syuaib.

Gadis itu meninggalkan segala kemewahan yang dimilikinya dan mulai memakai pakaian sederhana khas ahli ibadah, dan ia rela menikah dengan Abu Syuaib.

Suatu ketika, gadis yang telah menikah dengan Abu Syuaib itu melihat sepasang sendal di dalam gubuk. Sendal itu biasa digunakan Abu Syuaib untuk melindungi kakinya dari embun.

Wanita itu berkata, “Aku tidak akan masuk ke dalam gubuk sebelum engkau lepas sandalmu.”

Menurut ceritamu, bumi pernah berkata, “Wahai anak Adam, hari ini engkau menciptakan pemisah antara dirimu denganku, padahal saat mati kelak engkau akan ada di dalam perutku.” Karena itu, aku tak pernah menciptakan pemisah antara diriku dengan bumi.”

BACA JUGA: Berapa Lamakah Seorang Istri Bisa Sabar Menunggu Suaminya?

Mendengar ucapan istrinya, Abu Syuaib melepaskan sandal dan membuangnya. Sepasang suami istri ini menjalani hidup bersama dalam waktu yang lama. Mereka beribadah dengan sempurna. Mereka saling membantu dalam melaksanakan ibadah dan meninggal sebagai ahli ibadah.[]

Sumber: Golden Stories, Kisah-Kisah Indah dalam Sejarah Islam/Penulis: Mahmud Musthafa Saad & DR. Nashir Abu Amir Al-Humaidi/Penerbit: Pustaka Al-kautsar.

Artikel Terkait :

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More