Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Menjelang Wafatnya Imam Ahmad bin Hambal

0

Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad Hilal bin Mad adz-Dzahli asy-Syaibani atau yang dikenal dengan Imam Ahmad bin Hambal dilahirkan di Baghdad pada tahun 164 H dan besar di sana. Keluarganya berasal dari Marw. Ayahnya adalah Gubernur Sarkhas. Dalam usahanya menuntut ilmu pengetahuan, Abu Abdillah telah mengembara ke banyak negeri, yaitu Kuffah, Bashrah, Mekkah al- Mukarramah, Madinah al-Munawwarah, Yaman, Syam, Jazirah Arab, Magrib, dan Persia.

Ahmad bin Hambal mempelajari ilmu fiqih dari Imam Syafil yang waktu itu tengah berada di Baghdad. Akan tetapi ia kemudian menjadi seorang mujtahid muthlaq (membangun mazhabnya sendiri). Ahmad bin Hambal merupakan imam dalam bidang hadits dan fiqih. la telah mengarang Musnad yang di dalamnya terkumpul 30 ribu hadits. Selama hidupnya, Imam Ahmad bin Hambal pernah menghadapi suatu ujian berat, misalnya dipukuli dan dikurung karena mempertahankan keyakinannya bahwa Al-Qur’an. Hal itu terjadi pada masa pemerintahan al-Makmun, aI-Mu’tashim, dan al-Watsiq.

Shalih, putranya, menuturkan, “Suatu ketika, aku masuk melihatnya dan ia sedang dalam keadaan demam, napasnya naik turun dan tubuhnya sangat lemah. Saat itu aku menanyakan kepadanya, ‘Abah! Apa yang engkau makan saat makan siangmu?’

BACA JUGA: Kisah Jin dan Sandal Imam Ahmad bin Hanbal

la menjawab, ‘mal baqilla (kacang brul).'” Pada masa sakitnya itu, seseorang mengatakan kepadanya bahwa burung merak tidak suka mendengar erangan orang sakit Sejak diberitahukan demikian, Imam Ahmad berhenti merintih. Saat itu tidak pernah terdengar erangannya hingga malam yang esok paginya ia meninggal dunia. Baru pada waktu pagi itu ia merintih karena rasa sakit yang tak tertahankan. Sudah beberapa orang tabib berusaha untuk menyembuhkan Imam Ahmad, namun tidak juga membuahkan

Abdullah dan Shalih mengisahkan, “Menjelang wafat, ayahku sebentar-sebentar mengucap, “Belum.” Karena itu kutanyakan kepadanya, ‘Abah, apa maksud ‘belum’ yang Abah ulang-ulang sekarang ini?’

Beliau pun menjawab, ‘Anakku! Aku melihat iblis berdiri di sudut rumah, sambil menggigit jarinya, dan berkata, ‘Datanglah kepadaku, wahai Ahmad!’ Karena itulah aku menjawab, ‘Belum, belum.”‘

Imam Ahmad tidak akan mendatangi iblis sebelum nyawa yang keluar dari jasadnya berada dalam keadaan tauhid. Salah satu amalan Imam Ahmad yang terbilang amat bagus dalam waktu-waktu menjelang kematiannya itu adalah ia memberi isyarat kepada keluarganya untuk mewudhukannya. Dan hal itu segera mereka laksanakan. Ia juga menyuruh mereka agar menyela-nyelakan air di antara jari-jarinya, sementara ia membaca zikir-zikir ketika dibasuh seluruh anggota wudhunya. Usai itu, Imam pun meninggal dunia. Semoga Allah merahmatinya.

Ketika menjelang wafatnya itu pula, Imam Ahmad menyuruh Abdullah untuk meminta bayaran sewa dari semua penyewa tanah miliknya. Ia juga meminta tolong kepada Abdullah agar membayarkan kafarat satu sumpah yang pernah dilanggarnya. “Bayarlah kafarat satu sumpahku! Sebab, seingatku, aku hanya melanggar satu sumpah seumur hidupku!” ucap Imam Ahmad kepada Abdullah.

Mendengar perintah ayahnya itu, Abdullah segera mengambil uang hasil sewaan tadi dan dibelikannya kurma untuk membayar kafarat sumpah ayahnya. Setelah kewajiban itu ditunaikan, maka hasil sewaan yang tersisa tidak lebih dari tiga dirham saja. []

BACA JUGA: Kisah Imam Ahmad dan Pencuri, Aku Hanya Bekerja Satu Malam untuk Tuhan

Sumber: Wasiat2 Akhir Hayat dari Rasulullah/ Penulis: Zuhair Mahmud Al-Humawi/ Gema Insani/ 2003

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline