Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Mengembalikan Persoalan Kepada Allah

0

Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang tidak pernah berbuat sesuatu yang berlainan antara ucapan dan perbuatan. la menolak keras hasil perundingan antara Abu Musa dengan Amr, tetapi karena ia telah menyatakan kesediaan menerima “Tahkim”. Walaupun hanya karena ia ditekan oleh pengikutnya. Prinsip itu dipertahankan dengan konsekuen, selama pihak lawan benar-benar hendak mencari penyelesaian berdasarkan hukum Al-Qur’an.

Hal ini dapat dibuktikan dengan penjelasan-penjelasan yang diberikan kepada beberapa orang pengikutnya yang mengajukan pertanyaan. Dalam penjelasannya itu Ali mengatakan:

“Kami menerima tahkim. Oleh karena itu tahkim harus didasarkan kepada Kitab Allah, Al-Qur’an. Al Qurlan itu tertulis pada lembaran-lembaran. Al-Qur’an tidak berbicara dengan lisan dan tidak bisa tidak memerlukan penafsiran. Penafsiran itu sudah tentu keluar dari ucapan orang. Setelah mereka minta kepada kami supaya kami mengadakan penyelesaian berdasarkan tahkim Al-Qurlan, kami tidak mau menjadi fihak yang berdiri di luar Al-Qur’an. Sebab Allah ‘Azaa wa Jalla telah berfiman, artinya: “Jika kalian bertengkar mengenai sesuatu, maka kembalikanlah hal itu kepada Allah dan Rasul-Nya.” (S. An Nisa: 59).

Read More

Ini Pidato Pengingat dari Ali bin Abi Thalib

“Mengembalikan persoalan kepada Allah,” kata Ali seterusnya, “Berarti kami harus mencari penyelesaian hukum di dalam Kitab Allah. Dan mengembalikan persoalan kepada Rasul-Nya, berarti kami harus mengambil sunnah Rasul Allah. Jika persoalan benar-benar hendak diselesaikan berdasar hukum yang ada dalam Kitab Allah, sesungguhnyalah kami lebih berhak berbuat daripada orang lain. Dan kalau hendak diselesaikan berdasarkan sunnah Rasul Allah, pun kami jugalah yang lebih berhak daripada orang lain.”

Adapun ucapan mereka yang mengatakan, “Mengapa diadakan tenggang waktu (gencatan sudah mengerti. Mudah-mudahan selama gencatan senjata itu Allah akan memperbaiki keadaan ummat, agar menjadi terang, dan awal kesesatan itu dapat segera diluruskan.”

“Sesungguhnya yang paling afdhal di sisi Allah,” kata Ali pula, “Ialah orang yang lebih menyukai berbuat kebenaran walau kebenaran itu mendatangkan kesukaran dan kerugian baginya. Yaitu orang yang pantang berbuat kebatilan, walau kebatilan itu akan mendatangkan kemudahan dan keuntungan baginya. Jadi, bagaimanakah kalian sampai menjadi bingung, dan dari manakah keraguan yang menghinggapi fikiran kalian?” []

Sumber: Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a./ Penulis: H.M.H. Al Hamid Al Husaini/ Penerbit: Lembaga Penyelidikan Islam,1981

Artikel Terkait :

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More