Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Mengapa Ia Harus Jatuh ke Tanganku, Padahal Aku Tidak Menyukainya

0

Sebelum Khalifah Sulaiman bin Abdul Malik mewasiatkan kekhalifahannya tanpa sepengetahuan siapa pun. Hingga akhirnya ia dipanggil oleh sang pemiliknya dan sang penciptanya, para Bani Umayyah mendapatkan amanah dari penasihat Khalifah untuk membaiatkan siapa saja orang yang tercantum dalam wasiat itu.

Alangkah kecewanya salah seorang tokoh Bani Umayyah, ialah Hisyam, seraya berkata, “Inna lillahi Wa inna ilahi raji’un, aku telah disingkirkan dari Khalifah itu…!”

Umar pun langsung menyahut, “Memang! Inna lillahi Wa inna ilahi raji’un, mengapa ia mesti jatuh ke tanganku, padahal aku tidak menyukainya.”

Keesokan harinya Khalifah berpidato dihadapan mereka, dalam Madjid Dabiq. Lalu diucapkannya, “… Amma ba’du, sungguh aku telah menerima cobaan yang sangat dengan pengangkatan ini tanpa aku sendiri mengetahuinya, dan juga tanpa musyawarah Kaum Muslimin. Oleh karena itu sekarang aku batalkan baiat itu, pilihlah sendiri pemimpin yang kalian kehendaki!”

Namun mereka menyerukan, “Tidak! Andalah yang kami pilih, wahai Amirul Mukminin…!”

Ketika itu ada suara yang mampu mengalahkan suara orang-orang yang menyuarakan kegembiraannya, ialah suara tangisan Khalifah Umar.

Nabi bersabda, “Jabatan (kedudukan) pada mulanya ada penyesalan, pada pertengahannya ada kesengsaraan (kekesalan hati), dan pada akhirnya ada dzab pada hari kiamat.” (HR Thabrani) []

Sumber: Oase Kehidupan, Merujuk Kisah-kisah Hikmah Sebagai Teladan/Penerbit: Marja/Penulis:Abu Dzikra – Sodik Hasanuddin,2013

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline