Foto: Shutterstock

Menangis karena Tak Bisa Ikut Berjihad

Suatu hari, Rasulullah mengumumkan bahwa mereka akan kembali berjihad, berperang melawan musuh di Perang Tabuk. Tabuk ialah nama suatu daerah yang letaknya antara lembah al-Qura dan Syam. Tabuk berjarak sekitar 778 km dari kota Madinah. Jarak tempuh yang sangat jauh menyebabkan kaum Muslim perlu perbekalan dan persiapan yang penuh dalam menghadapi perang Tabuk ini.

Ketika kaum Muslim tengah mempersiapkan diri dan juga perbekalan, ada salah seorang sahabat Rasulullah yang kebingungan. Keinginannya untuk ikut berjihad begitu besar. la tahu akan keutamaan berjihad. Oleh karena itu, ia ingin termasuk salah seorang di antaranya. Bahkan, cita-citanya adalah meraih syahid di jalan Allah.

Ia adalah Abdullah bin Mughaffal bin Abdu Ghunmin. Hidupnya sangat miskin sehingga ia tak memiliki kendaraan yang bisa digunakan untuk berangkat bersama rombongan kaum Muslim ke Tabuk. Mengingat Tabuk jaraknya sangat jauh sehingga tidak memungkinkan ia pergi tanpa kendaraan.

Namun apa daya, setelah mengupayakannya tetap saja ia tidak mempunyai perbekalan untuk ikut berjihad. la tidak juga berhasil mendapatkan kendaraan dan bahan makanan meski telah mencari ke sana kemari. Beban yang cukup berat menghadapi perang memang sangat terasa. Selain Tabuk terletak di tempat yang sangat jauh, saat itu bertepatan dengan datangnya musim panas dan kemarau yang terasa sangat membakar. Akhirnya, tinggal satu usaha lagi yang belum dilakukan. Dengan didorong oleh keinginan yang kuat untuk berjihad, akhirnya ia memberanikan diri menghadap Rasulullah. Pada beliau, ia mengutarakan kegundahannya.

“Maaf, tapi aku juga tidak bisa memberikan bantuan,”sesal Rasulullah.

Rasulullah sangat ingin membantu memberikan perlengkapan perang, tetapi apa daya beliau juga tidak mampu. Lelaki itu merasa sangat sedih. Dalam kesedihannya, ia hanya bisa mengadu kepada Allah. Lelaki itu menangis menyesali ketidakberdayaannya. Tangis itu semakin deras ketika menyaksikan Rasulullah bersama dengan kaum Muslim berangkat menuju medan jihad meninggalkan dirinya bersama Para orang tua, orang yang sedang sakit, kaum perempuan, serta anak-anak. Mereka, golongan yang tidak berkewajiban untuk berjihad.

Kesedihannya mulai sirna ketika turun ayat berikut kepada Rasulullah SAW. Ayat itu menjadi penenang bagi dirinya. “Juga tidak berdosa bagi orang-orang yang datang kepadamu (Muhammad) agar kamu memberi kendaraan kepada mereka, tetapi kamu berkata, Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,’ Ialu mereka kembali dengan bercucuran air mata karena sedih tidak memperoleh apa yang akan mereka infakkan untuk ikut berperang.” (Q.S. At-Taubah [9] : 92)

Namun demikian, semangat berjihad dalam dirinya tak pernah hilang. la senantiasa merindukan bisa berjihad fisabilillah.[]

Sumber: Para Abdullah di Sekitar Rasulullah/ Penulis: Haeriyyah Syamsudin/ Penerbit: Khazanah Intelektual/ 2013

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Saya Saudara Jauh Muawiyyah

Ada seorang lelaki tak dikenal ingin datang menjumpai Muawiyyah. Di depan rumah, ia berjumpa pertama kali dengan penjaga gerbang.

you're currently offline