Picture: Shutterstock

Memohonkannya Ampun Lebih dari Tujuh Puluh Kali

وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

“Dan janganlah kamu sekali-kali menshalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” (QS. At-Taubah Ayat 84)

Itulah firman Allah yang turun ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menshalatkan Abdullah bin Ubay, salah satu pentolan kaum munafik.

Umar bin Khattab menceritakan, “Saat Rasulullah sudah berdiri di hadapannya, aku maju menghalangi beliau, lalu aku mengingatkan beliau, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau menshalatkan musuh Allah yang pernah berkata begini dan begitu? Aku mengingatkan hari-hari yang penuh keburukan yang pernah ia lakukan.

Mendengar hal itu, Rasulullah hanya tersenyum lalu berkata, ‘Mundurlah wahai Umar, aku telah diberikan untuk memilih (menshalatkan atau tidak). Allah telah berfirman, “Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.” (QS. At-Taubah Ayat 80)

Sendainya aku tahu jika aku menambah lebih dari tujuh puluh (istighfar) dia akan diampuni, sungguh aku akan menambahnya. Nabi pun menshalatkan dan ikut mengubur jenazahnya sampai selesai dikuburkan, saat itu aku sadar bagaimana bisa aku begitu lancang kepada Rasulullah. dan selepas ayat itu turun, beliau tak pernah lagi menshalatkan jenazah orang munafik atau berdiri di kuburannya. []

 

 

Sumber: Abu Jannah. Sya’ban 1438 H. Serial Khulafa Ar-Rasyidin, Umar bin al-Khattab. Jakarta: Pustaka Al-Inabah

About Dika Nugraha

Al-Qur'an & As-Sunnah

Check Also

Nabi Ibrahim Hanya Meninggikan Bangunan Kabah, Bukan Membuat Pondasi

Sebenarnya, yang dilakukan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS adalah meninggikan Ka'bah, karena fondasi Ka'bah telah ada sebelumnya.

you're currently offline