Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Masuk Islamnya Ummu Hakim dan Perjuangannya Cintanya kepada Ikrimah (Bagian 2)

Kita tak tahu keterangan pasti, bagaimana sebenarnya keadaan hatinya sejak semula. Yang jelas, saat ini dia akan melakukan sebuah hal besar yang melampaui segala perasaan itu. Hatinya yang kukuh —mungkin khas klan Bani Makhzum- menggerakkannya untuk menemui Rasulullah. Dan di hadapan beliau dia meminta satu hal yang menurut perkiraannya tak mungkin dipenuhi. Jaminan keamanan dari beliau Shallallaahu wa Sallam untuk suaminya.

BACA JUGA: Masuk Islamnya Ummu Hakim dan Perjuangannya Cintanya kepada Ikrimah (Bagian 1)

Sepertinya tak mungkin. Tapi apa salahnya berharap pada Allah Yang Maha Kuasa tentang seorang yang begitu damai memberikan pengampunan umum atas Quraisy hari itu. Muhammad seorang pemaaf, bukan pendendam. Meski suaminya ada di daftar atas para buronan, apa salahnya mencoba?

Dan Rasulullah memang menjawab, “Ya.”

Bahkan Ummu Hakim binti Al Harits pun terkejut menyaksikan begitu mudahnya jawaban itu keluar dari bibir sang manusia mulia. Dan diiringi senyum yang sangat manis, sangat damai. Tiba-tiba tubuhnya serasa ringan, hatinya lapang. Ia kini tak ragu bahwa Islam adalah pilihan hidup untuknya, dan untuk suaminya. “Ah..”, gumam Ummu Hakim. Tapi ini baru langkah pertama. Meminta kepada Rasulullah jauh lebih mudah daripada membujuk suaminya. Dan untuk menemui lelaki itu pun bukan hal ringan. Ke Yaman. Ke Yaman yang jauh dengan perjalanan berbahaya, melintasi gurun kosong yang tak aman dari hewan buas dan manusia beringas. Ke sana ia harus menuju, menyusul lelaki gagah Yang keras hati itu. Berbahagialah mereka yang digerakkan oleh cinta kepada hidayah.

BACA JUGA: Ikrimah: Siapa yang Berani Membaiatku untuk Mati?

Dan itulah yang terjadi pada Ikrimah. Dia juga tak dapat menahan air mata, melihat kilau-kemilau di mata isterinya. Ia memang hanya setengah percaya pada pesan yang dibawa wanita tegar ini. Muhammad mengampuninya? Agak sulit menerima itu. Ia hanya setengah percaya pada pesan ini. Tapi ia sepenuhnya percaya pada selaksa kesulitan yang ditempuh Ummu Hakim untuk bisa menemuinya di Yaman. Ia percaya pada ketulusan wanita ini. Ia percaya pada cintanya. Ia tergerak di titik balik kehidupan, ketika semua yang dimilikinya terasa berantakan. Berbahagialah mereka yang digerakkan oleh cinta kepada hidayah.. Nun di Makkah sana, Sang Nabi tiba-tiba bersabda kepada shahabat-shahabatnya. “Sebentar lagi Ikrimah ibn Abu Jahl akan datang ke tengah kita sebagai seorang mukmin yang berhijrah”, katanya, “maka kuminta kepada kalian untuk menghentikan semua celaan dan cacian kepada ayahnya!” []

Sumber: Jalan Cinta para Pejuang/ Penulis: Salim A Fillah/ Penerbit: Pro U Media

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline