Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Masuk Islamnya Ummu Hakim dan Perjuangan Cintanya kepada Ikrimah (Bagian 1)

0

Namanya Ummu Hakim binti Al Harits. Di lahir, tumbuh, dan merenda masa depan di tengah keluarga yang paling dahsyat permusuhannya terhadap da’wah Rasulullah, Shallallaahu Alaihi wa Sallam. Ayahnya, Harits ibn Hisyam, hingga ajal menjemput tak henti memusuhi Sang Nabi. Paman, sekaligus mertuanya adalah Abu Jahl ibn Hisyam, Fir’aunnya ummat ini. Dan harus kita sebut nama suaminya, Ikrimah ibn Abi Jahl, panglima Makkah yang paling ganas dan ditakuti setelah Khalid ibn Walid.

Hari itu adalah hari takluknya Makkah. Nama suaminya berada di deret atas daftar pencarian pasukan Rasulullah. Untuk dibunuh. Karena permusuhan sengitnya yang tak kunjung henti, karena keganasannya dalam menyiksa kaum beriman. Juga demi pemusnahan dendam kesumat dan darah kejahatan yang mengalir dalam dirinya; darah Abu Jahl. Sebuah nama yang mendenging di telinga kaum muslimin sebagai pembantai orang beriman, penganiaya mukmin lemah, pengobar kebencian, permusuhan, dan peperangan.

BACA JUGA: Tatkala Abu Bakar Masuk pada Pertengkaran Rasulullah dan Aisyah

Dia berharap hari itu suaminya akan memenuhi ajakan Khalid ibn Al Walid yang membawa pesan padanya, “Masuklah Islam, engkau akan selamat!” Ya, masuk Islam saja. Atau setidaknya berpura-pura. Tapi jawaban Ikrimah sungguh menggiriskan hatinya. “Andaikan di muka bumi ini tak tersisa lagi selain diriku, aku tetap takkan mengikuti Muhammad selama-lamanya!” Keras kepala! Keras kepala! Persis seperti ayahnya yang memilih kehancuran daripada kebenaran ketika berdoa, “Ya Allah jika apa yang dibawa Muhammad itu memang benar dari sisi-Mu, hujani saja kami dengan batu dari langit!”

Detik itu juga Ummu Hakim menyaksikan suaminya berkemas. Ia tak bertanya. Ia akan tahu nanti bahwa lelaki yang dicintainya itu pergi ke Yaman. Kini hatinya yang dirundung duka, dendam, dan lara itu harus ditata lebih dahulu. Mari kita bayangkan seorang wanita yang tumbuh di tengah ayah, mertua, suami dan keluarga besar yang paling sengit memerangi da’wah. Mencaci-maki Muhammad dan mencelanya sudah bagai ritual agama dalam rumahtangga dan keluarga besarnya.

Tentu ada dua kemungkinan tentang jiwanya sejak lama. Pertama, jika ia bersimpati pada Muhammad dan diam-diam beriman, atau setidaknya mendukung dalam hati. Tentu masa berpuluh tahun ini bukan masa yang mudah untuk dilaluinya. Ia harus menyembunyikan perasaan kagum dan dukungannya dari seluruh keluarga yang kompak menyanyikan koor permusuhan. pahit sekali. Pahit sekali mendengar lelaki berakhlaq mulia, yang datang dengan segala kebaikan bagi Quraisy itu dihina dan direndahkan di telinganya. Atau kadang mungkin ia ditegur, “Mengapa kau tak ikut mencela Muhammad?”

BACA JUGA: Istri Rasulullah yang Paling Panjang Tangannya

Atau kemungkinan kedua. Bahwa ia tak beda dengan suami, ayah, mertua atau pamannya. Seorang yang tumbuh dengan kebencian tak terperikan pada Islam. Pada Muhammad. Maka saat yang paling sulit dan rumit itu adalah sekarang. Ketika mertuanya yang perkasa, Abu Jahl telah lama gugur di Badar dengan meninggalkan luka di hati suaminya, dan di hatinya. Luka itu belum kering. Dendam itu masih menyala. Kini, ketika Muhammad datang bersama sepuluh ribu bala tentaranya. Ketika seluruh bangsa Quraisy harus tertunduk malu kepadanya di depan Ka’bah. Si yatim, si miskin, si santun itu kini memegang kendali nasib mereka. Maka, bagaimanakah perasaannya?

Sumber: Jalan Cinta para Pejuang/ Penulis: Salim A Fillah/ Penerbit: Pro U Media

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline