Picture: Freepik

Masuk Islamnya Ikrimah Ibn Abu Jahal, Putra Orang Paling Zalim

Saat Nabi mengumandangkan dakwahnya dan membawa rahmat kepada seluruh makhluk, Ikrimah adalah seorang lelaki muda berusia tiga puluhan. Dia berada dari keturunan terhormat Quraisy. Paling banyak hartanya dan paling mulia keturunannya.

Sepantasnya Ikrimah memeluk Islam sebagaimana orang-orang yang sepadan dengannya, seperti Sa’ad ibn Abi Waqqash, Mush’ab ibn Umair, dan lain-lain kalau saja bukan karena ayahnya.

Siapa gerangan ayahnya? Seorang yang zalim dan sewenang-wenang di Mekah, pemimpin penyembahan berhala yang pertama dan otak dari tindakan-tindakan aniaya. Allah menguji iman kaum Muslimin dengan kekejamannya, tetapi mereka tetap tabah. Allah menguji keyakinan orang-orang yang benar dengan tipudaya si zalim itu, namun mereka tetap menunjukkan kekukuhan imannya.

Dialah Abu Jahal ayahanda Ikrimah ibn Abu Jahal al-Makhzumi, orang yang paling zalim di masanya.

Di hari Fathu Makkah (Penaklukan Mekah), orang-orang Quraisy merasa tak mampu lagi menghadapi Muhammad dan para sahabatnya. Oleh sebab itu mereka memutuskan akan membukakan jalan bagi kaum Muslimin untuk memasuki Mekah.

Keputusan ini diambil karena mereka mengetahui bahwa Rasulullah telah memerintahkan kepada para panglimanya agar tidak menyerang penduduk Mekah kecuali bila diserang. Tetapi Ikrimah ibn Abi Jahal dan beberapa kawannya melanggar keputusan Quraisy. Mereka menghadang pasukan Muslimin yang besar itu. Khalid ibn Walid berhasil mematahkan perlawanan pasukan ini dalam suatu bentrokan kecil. Banyak di antara mereka yang menjadi korban.

Karena rasa takutnya terhadap umat Muslim. Ikrimah berhasil meloloskan diri. Sesudah itu Ikrimah merasa bingung dan menyesal sekali. Makkah tak lagi memberinya tempat bergerak. Setelah penduduknya menyerah kepada kaum Muslimin, Rasulullah memberikan ampunan kepada orang-orang Quraisy yang pernah memerangi beliau. Tetapi ada beberapa orang yang dikecualikan dan boleh dibunuh walaupun berlindung di bawah tirai Ka’bah. Nama-nama mereka disebutkan dengan jelas, di antaranya Ikrimah ibn Abu Jahal. Itu sebabnya dia melarikan diri. Secara sembunyi-sembunyi dia keluar menuju Yaman. Tak ada tempat lain yang terpikirkan.

Pada waktu yang sama, Ummu Hakim, istri Ikrimah, dan Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan, bersama wanita-wanita lainnya pergi ke tempat Rasulullah untuk memberikan baiatnya.

Setelah Ummu Hakim berbaiat kepada Rasulullah dan menyatakan dirinya masuk Islam, kemudian ia berkata kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, Ikrimah telah melarikan diri ke Yaman karena takut Anda membunuhnya. Sekarang saya mohon Anda sudi menjamin keselamatannya, semoga Allah melindungi Anda.”

Rasulullah menjawab, “Dia terjamin jiwanya.”

Mendengar jaminan Rasulullah, Ummu Hakim lalu pergi mencari suaminya sampai akhirnya bertemu dengan suaminya di pantai Tihamah. Saat itu Ikrimah sedang tawar-menawar dengan seorang pelaut Muslimin untuk mengantarkan ke Yaman. Pelaut itu berkata, “Nyatakanlah ketulusan hatimu.”

Ikrimah bertanya, “Bagaimana menyatakannya?”

“Hendaknya engkau mengucapkan dua kalimat syahadat.”

“Justru kalimat itulah yang membuatku lari”

Ketika keduanya tengah berdebat, tiba-tiba datang Ummu Hakim, lantas bekata, “Wahai putra pamanku, aku datang dari seseorang yang utama dan sebaik-baik manusia. Aku datang dari Muhammad ibn Abdullah, dan kumohonkan jaminan keamanan atas dirimu kepada beliau. Kuharap jangan kau celakakan dirimu sendiri.”

Ikrimah bertanya tak pecaya, “Engkau sendiri yang bicara dengannya?”

“Ya, aku sendiri yang bicara dengan Muhammad,” jawab Ummu Hakim meyakinkan. “Dan beliau telah menjamin keselamatanmu.” Ummu Hakim terus merayu suaminya dan berusaha menentramkan hatinya. Setelah tenang, lkrimah pun bersedia kembali bersama istrinya.

Pasangan suami-istri itu kemudian menginap di sebuah rumah. Ikrimah ingin tidur bersama istrinya tetapi ditolak dengan keras. Ummu Hakim berkata, “Aku seorang wanita muslimah sedangkan engkau laki-laki musyrik.”

Ikrimah terheran-heran mendengar jawaban itu. Ummu Hakim kembali berkata, “Penghalang antara aku dan engkau untuk tidur bersama adalah sebuah masalah yang sangat besar.”

Ketika Ikrimah dan Ummu Hakim tiba di dekat Mekah, Rasulullah berkata kepada para sahabatnya, “Akan datang Ikrimah ibn Abi Jahal sebagai seorang mukmin dan muhajir. Jangan mencaci orang yang sudah mati yang kemudian melukai hati orang yang masih hidup, dan cacian itu tidak akan pernah sampai kepada yang sudah mati itu.”

Setelah Rasulullah duduk kembali, Ikrimah berdiri di hadapannya seraya berkata, “Wahai Muhammad, Ummu Hakim memberitahukan bahwa Anda telah menjamin keselamatanku.”

“Dia benar,” kata Nabi. “Engkau terjamin.”

Ikrimah bertanya lagi, “Apa sebenarnya yang Anda serukan?”

“Aku menyeru agar engkau mau mengucapkan kalimat syahadat, yaitu peryataan bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan aku adalah hamba dan Rasul-Nya, kemudian melaksanakan shalat lima waktu, membayar zakat,…” jawab Rasulullah.

“Demi Allah Anda tidak mengajak kecuali kepada kebenaran dan tidak menyeru kecuali kebaikan semata. Dahulu, sebelum mengajak kami ke dalam agama kebenaran ini pun Anda adalah seorang yang paling jujur tutur katanya dan paling baik budi di antara kami.” Kemudian dia mengulurkan tangannya, “Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Anda adalah hamba dan Rasul-Nya.” Ia melanjutkan, “Ya Rasulullah, ajarkan kepadaku sebaik-baik perkataan.”

Rasulullah bersabda, “Katakan, aku bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”

“Apa selanjutnya?” tanya Ikrimah.

“Kuminta kesaksian Allah dan hadirin di sini bahwa aku ini seorang muslim yang berjihad dan berhijrah,” kata Rasulullah.

Ikrimah mengulangi kata-kata Rasulullah tersebut. Sesudah itu Rasulullah berkata lagi, “Pada hari ini tidak ada satu pun permintaanmu kecuali akan kuberikan.”

Ikhrimah memohon, “Saya mohon Anda meminta kepada Allah agar mengampuni semua permusuhan yang pernah saya lakukan terhadap Anda, perang-perang saya melawan Anda, maupun kata-kata keji yang saya lontarkan di depan dan di belakang Anda.”

Rasulullah lalu berdoa, “Ya Allah, ampunilah dia untuk segala permusuhan yang pernah ditunjukkannya kepadaku dan untuk setiap jalan yang pernah ditempuhnya demi memadamkan cahaya-Mu. Ya Allah, ampunilah dia untuk kehormatanku yang pernah dicemarkannya di depan maupun di belakangku, di saat aku ada dan tiada.”

Wajah Ikrimah berseri-seri. Dengan gembira dia berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah, tidak saya biarkan begitu saja setiap harta yang saya sumbangkan untuk menghalangi jalan-Nya kecuali akan saya lipat gandakan di jalan Allah. Tidak ada peperangan yang saya ikuti untuk merintangi jalan Allah kecuali akan saya tebus dengan berperang di jalan Allah secara berlipat ganda.” []

Sumber: Sosok Para Sahabat Nabi/ Penulis: Dr. Abdurrahman Raf’at al-Basya/ Penerbit: Qisthi Press/ 2017

 

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Saya Saudara Jauh Muawiyyah

Ada seorang lelaki tak dikenal ingin datang menjumpai Muawiyyah. Di depan rumah, ia berjumpa pertama kali dengan penjaga gerbang.

you're currently offline