Foto: GFX9.COM

Masuk Islam Ketika Hendak Membunuh Rasulullah

Suatu hari, usai Perang Badar, di hadapan kaum Quraisy Makkah, Abu Sufyan berkata, “Mengapa tidak ada orang yang mau membunuh Muhammad ketika ia berjalan-jalan di pasar? Kita harus menuntut balas!”

Seorang Arab pedalaman mendatangi Abu Sufyan di rumahnya dan berkata, “Apa kau mau memberiku imbalan, aku akan membunuh Muhammad. Aku pandai menemukan jalan-jalan rahasia ke Madinah. Aku pun sangat mahir mengenal arah, dan pisauku pun selalu terasah tajam.”

Tentu saja Abu Sufyan sangat senang dan berkata, “Engkau sahabatku.” Lalu, ia memberinya unta dan perbekalan. Tak lupa, Abu Sufyan juga berbisik, “Rahasiakan perjanjian ini. Aku tidak mau seorang pun mendengarnya. Aku takut seseorang menyampaikannya kepada Muhammad.”

Orang Arab itu berjanji, “Ya, aku berjanji. Tidak akan ada seorang pun yang mengetahuinya.” Selanjutnya, ia berangkat menuju Madinah.

Setelah seminggu perjalanan, ia tiba di Madinah. la mencari Rasulullah Saw. dan melihatnya sedang bersama para sahabat di masjid. Maka, dengan hati-hati ia memasuki masjid. Saat Rasulullah Saw. melihatnya, beliau berkata kepada para sahabat, “Orang ini bermaksud buruk, tetapi Allah akan menghalanginya dari apa yang direncanakannya.”

Setelah berada di dalam masjid, orang Arab itu bertanya, “Manakah anak Abdul Muthalib?”

“Aku, anak Abdul Muthalib,” jawab Rasulullah Saw. tenang.

Orang Arab pedalaman tersebut mendekati Rasulullah Saw., lalu merunduk ke arah sebelah kiri beliau. Usaid ibn Khudhair, seorang Anshar, bangkit dari duduknya dan membentaknya, “Jangan dekati Rasulullah!” la sentakkan sesuatu dari dalam baju orang itu dan merampas pisaunya.

Rasulullah Saw. berkata, “Memang, ia punya niat buruk.” Dalam cengkeraman Usaid, laki-laki itu merengek,

“Lindungilah aku, wahai Muhammad!”

Rasulullah Saw. bertanya, “Jawablah dengan jujur. Saat ini, hanya kejujuran yang bisa menyelamatkanmu. Jangan berdusta, karena aku sudah mengetahui apa yang kaurencanakan!”

“Apakah aku akan dilindungi?”

“Ya, kau aman.”

Maka, ia menceritakan perjanjiannya dengan Abu Sufyan untuk pergi ke Madinah dan membunuh Rasulullah. Setelah itu, beliau menyuruh Usaid untuk menahan dan mengawasi laki-laki itu. Keesokan harinya, Rasulullah Saw. memanggil orang Arab itu dan berkata, “Aku sudah memberikan perlindungan kepadamu. Sekarang, pergilah ke mana pun yang kau suka atau pilihlah yang paling baik untukmu.”

“Apakah yang paling baik untukku?”

“Ucapkanlah: Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa aku adalah utusan-Nya!”

“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa engkau adalah utusan-Nya. Aku yakin, kau dalam kebenaran dan pasukan Abu Sufyan adalah pasukan setan.”

Orang Arab itu sempat tinggal di Madinah beberapa hari, kemudian Rasulullah Saw. mengizinkannya pergi. Sejak hari itu, tidak ada yang mengetahui keberadaan laki-laki itu. []

Sumber: 115 Kisah Menakjubkan dalam Kehidupan Rasulullah Saw/ Fuad Abdurahman/Naura Book/ Jakarta, 2015

About Erna Iriani

Indonesian Muslimah | Islamic Graduate Student | "Jangan menjadi gila karena cinta kepada seseorang, atau ingin menghancurkan seseorang karena kebencian." (Umar bin Khatab)

Check Also

Saya Saudara Jauh Muawiyyah

Ada seorang lelaki tak dikenal ingin datang menjumpai Muawiyyah. Di depan rumah, ia berjumpa pertama kali dengan penjaga gerbang.

you're currently offline