Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Masjid Nabi

0

Nabi membeli sebidang tanah. Letaknya di depan rumah Abu Ayyub.

Nabi dengan sahabatnya, mulai membangun sebuah masjid di atasnya. Dengan demikian, Nabi kembali menunjukkan betapa pentingnya bagi umat Islam untuk membangun Masjid dimanapun mereka berada.

Nabi berkata, “Barangsiapa membangun sebuah masjid di muka bumi, Allah akan membalasnya dengan sebuah istana di surga.”

Semua kaum Muhajirin (Muslim yang melakukan hijrah dan pindah ke Madinah) dan kaum Ansar (orang-orang yang tinggal di Madinah) bekerja sangat keras. Nabi sendiri bekerja siang dan malam bersama mereka.

Ada banyak kaum Muslim, dan mereka tidak ingin Nabi ikut bekerja. “Anda adalah pemimpin kami dan seorang Nabi,” kata mereka kepada Rasulullah. “Kami ingin Anda beristirahat.”

“Pemimpin rakyat adalah pelayan mereka,” jawab Nabi. Jadi, Nabi memberi teladan bagi semua orang. Pemimpin umat Islam adalah pelayan umat. Mereka harus bekerja lebih keras daripada yang lain.

Dinding Masjid Nabi terbuat dari lumpur dan batu, atapnya terbuat dari pohon palem dan tangkai, dan lantai pasir. Akhirnya kerja keras itu membuahkan hasil. Masjid selesai dibangun. Semua umat Islam merasa bahagia saat Masjid tersebut selesai dibangun. Mereka mulai melakukan shalat di masjid lima kali sehari.

Di satu sisi Masjid, sebuah kamar dibangun untuk keluarga Rasulullah. Hal ini memudahkan umat Islam untuk menemui Nabi. Mereka bertemu dengannya lima kali setiap hari pada saat Shalat.

Setelah shalat shubuh, Nabi duduk dengan para sahabatnya dan mengajar mereka. Setelah shalat maghrib, para wanita datang ke rumahnya, untuk belajar Islam darinya.

Orang bisa datang kepadanya kapan saja. Dengan cara ini, Nabi menunjukkan bahwa mereka yang ingin melayani umat Islam dan mengajari mereka islam harus tinggal bersama mereka.

Di Masjid Nabi, ada sebuah platform yang disebut Suffah. Orang-orang Muslim yang miskin, yang tidak memiliki keluarga dan tidak memiliki rumah, tinggal di sana. Mereka disebut Ashab as-Suffah, atau Orang Suffah. Nabi memiliki perhatian khusus untuk Ashab as-Suffah dan dia ingin mereka tetap dekat dengannya.

Ketika Nabi meninggal, dia dimakamkan di ruangan istrinya, Aisyah, di sebelah Masjid Nabi.

Dua sahabatnya, Abu Bakar dan Umar bin Khattab, juga dimakamkan di sana. []

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline