Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Manakah yang Lebih Dahulu? Mizan atau Telaga Nabi?

Imam Muslim meriwayatkan dari Anas, ia berkata, “Suatu hari ketika Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam berada di tengah-tengah kami, tiba-tiba beliau pingsan sejenak.

Setelah itu, beliau bangun sambil tersenyum.

Kami bertanya: ‘Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah?’

BACA JUGA: Beberapa Orang Akan Diusir dari Telaga Rasulullah

Beliau menjawab: ‘Telah diturunkan sebuah surah.”

Selanjutnya, beliau membaca ‘Dengan menyebut Asma Allah yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya, Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya, orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.’(QS. Al-Kautsar: 1–3)

Selanjutnya, beliau bertanya: ‘Apakah kalian tahu apakah al-Kautsar itu?’

Kami menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’

Beliau bersabda, ‘Kautsar adalah sungai yang dijanjikan Allah kepadaku. Sungai yang mengandung banyak kebaikan, yaitu sungai yang akan didatangi oleh umatku pada hari Kiamat. Wadahnya adalah sejumlah bintang. Lantas ada orang yang tidak bisa mendekat. Aku pun berkata: ‘Wahai Tuhan, ia adalah bagian dari umatku.’ Namun, Allah menjawab: ‘Engkau tidak tahu bid’ah apa yang ia perbuat sepeninggalmu’.” (HR. Muslim)

Penulis kitab Qut al-Qulub dan ulama lainnya berpendapat bahwa telaga Nabi shalallahu alaihi wa sallam (haudh) itu ada sesudah melewati shirath. Akan tetapi, yang benar adalah bahwa beliau memiliki dua telaga.

Pertama di Mauqif (Padang Mahsyar) sebelum melewati shirath dan yang kedua ada di surga.

Keduanya disebut dengan al-Kautsar.

Al-Kautsar dalam bahasa berarti al-khair al-katsir (kebaikan yang banyak).

Jadi, manakah yang lebih dahulu antara mizan dan haudh? Dalam hal ini terjadi perselisihan pendapat.

Ada yang mengatakan mizan terlebih dahulu dan ada yang mengatakan haudh (telaga) terlebih dahulu.

Abu Hasan al-Qabisi mengatakan, “Yang benar adalah bahwa haudh terlebih dahulu.”

Al-Qurthubi berpendapat bahwa konteks situasi menghendaki haudh terlebih dahulu.

Itu karena manusia keluar dari kubur dalam keadaan haus sehingga haudh harus mendahului shirath dan mizan. Wallahu a’lam.

Abu Hamid, dalam kitab Kasyf ‘Ilm al-Âkhirah yang dikutip oleh seorang penulis salaf, mengatakan bahwa haudh itu ada sesudah shirath. Tentu ini adalah salah.

Al-Qurthubi mengatakan, “Yang benar adalah seperti yang dikatakan Abu Hamid.”

BACA JUGA: Hijrahnya Putra Mahkota kepada Allah dengan Membawa Ruhnya

Pasalnya, shirath tiada lain adalah jembatan yang membentang di atas Neraka Jahannam.

Siapa yang bisa menyeberangi shirath ini maka ia selamat dari neraka seperti yang akan dijelaskan nanti.

Demikian pula telaga-telaga para nabi juga berada di Mauqif. (Hadis Sahih)

Muslim meriwayatkan dari Abu Dzar r.a., ia berkata, “Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, apakah wadah (minum) di Telaga Haudh?’

Beliau menjawab, ‘Demi Tuhan yang jiwa Muhammad ada di Tangan-Nya, wadah minum haudh itu sungguh lebih banyak daripada jumlah bintang dan planet di langit pada malam yang gelap gulita. Wadah surga itu adalah wadah yang siapa yang minum dengannya maka ia tak pernah haus selamanya. Kepadanya dialirkan dua aliran dari surga. Siapa yang minum darinyamaka ia tidak pernah haus. Luasnya sama dengan panjangnya, antara Amman dan Ailah. Airnya lebih putih daripada salju dan lebih manis daripada madu.” (HR. Muslim)

Tsauban meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya, aku berada di tepi Haudhku. Aku akan menghalangi setiap manusia yang akan minum dari telagaku, untuk kelompok kanan. Aku memukul dengan tongkatku hingga mereka pergi.”

Saat Rasulullah ditanya tentang luasnya haudh, beliau menjawab, “Dari tempatku berdiri hingga Yaman.”

BACA JUGA: Kenikmatan Melihat Allah bagi Penghuni Surga

Selanjutnya, beliau ditentang airnya maka beliau menjawab, “Lebih putih daripada salju dan lebih manis daripada madu. Di dalamnya mengalir dua aliran dari surga yang satu dari emas dan yang satu dari kertas.”

Wallahu a’lam bishawab. []

Sumber: Tadzkirah/Karya: Imam Al-Qhurtubi/Penerbit: Qisthi press

Artikel Terkait :

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline