Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Malapetaka bagi Ka’ab Bin Malik

0

Ka’ab bin Malik meriwayatkan kisahnya, ketika ia termasuk salah satu dari tiga orang yang tidak ikut dalam perang Tabuk. Ia mengatakan, “Rasulullah melarang kaum muslimin berbicara dengan kami, yakni yang mana saja dari tiga orang yang tidak ikut perang bersama beliau.

Orang-orang menjauhi kami. Sikap mereka telah berubah terhadap kami, sehingga bagi diriku bumi yang aku pijak telah berubah muka, bukan lagi bumi yang aku kenal sebelum ini…

(Sampai dengan katanya) Hingga tatkala telah lama kaum muslimin tidak lagi peduli kepadaku, aku berjalan mengelilingi dinding rumah Abu Qatadah. Ia adalah sepupuku dan orang yang paling kucintai. (Ketika berpapasan dengannya) aku mengucapkan salam, tetapi demi Allah, ia tidak membalasnya.

Lalu kutanyakan kepadanya, ‘Wahai Abu Qatadah, demi Allah, aku memintamu untuk menjawab, adakah sepengetahuanmu aku tidak mencintai Allah dan Rasul-Nya?’

Abu Qatadah hanya diam. Aku mengulangi harapanku supaya ia menjawab pertanyaanku itu, tetapi ia masih saja diam.

Pada kali ketiga aku mengulangi pertanyaanku, baru ia menjawab, dan Rasul-Nya lebih mengetahui (tentang hal itu)!’

Mendengar jawabannya tersebut, maka bercucuranlah air mataku. Lalu aku meninggalkannya dan pergi mengelilingi dinding rumahnya. Ketika aku sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba (aku mendengar) seorang rakyat jelata dari penduduk Syam yang datang menjual makanan di Madinah, bertanya kepada orang-orang, ‘Bagaimana caranya aku bisa bertemu dengan Ka’ab bin Malik?’

Orang-orang pun menunjuk ke arahku, hingga ia sampai kepadaku. Kemudian ia menyodorkan sepucuk surat yang berasal dari raja Ghassan, sementara aku sendiri adalah seorang penulis.

Aku membacanya, yang ternyata isi surat itu berbunyi, ‘Amma ba’du. Telah sampai kepada kami berita bahwa sahabatmu (Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam) sudah tidak lagi bersikap ramah kepadamu, sementara Allah tidak menjadikan engkau di dunia ini terhina dan terabaikan. Karenanya datanglah kepada kami! Kami akan menghiburmu.’

Setelah membacanya, aku berkata kepada diriku, Ini juga malapetaka. Kemudian sengaja aku melumurinya dengan kapur dan membakarnya. Keadaan yang dialami Ka’ab itu terus berlanjut sampai dengan turun ayat Al-Qur’an yang menyatakan tobatnya diterima.” []

Sumber: Ar-Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam/Penulis: Said Hawwa/Penerbit: Gema Press,2003

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

you're currently offline