Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Mahar yang Berupa Baju Besi

0 1

Ketika Siti Fatimah Azzahra mencapai puncak keremajaannya dan kecantikannya pada saat risalah yang dibawakan Nabi sudah maju dengan pesat di Madinah dan sekitarnya. Keelokan parasnya banyak menarik perhatian. Bahkan tidak sedikit pria terhormat yang menggantungkan harapan ingin mempersunting puteri Rasulallah itu.

Beberapa orang terkemuka dari kaum Muhajirin dan Anshar telah berusaha melamarnya. Menanggapi lamaran itu, Nabi mengemukakan, bahwa beliau sedang menantikan datangnya petunjuk dari Allah Swt mengenai puterinya itu.

Pada suatu hari Abu Bakar Ash Shiddiq, Umar Ibnul Khatab. dan Sa’ad bin Mu’adz bersama-sama Rasulallah duduk dalam mesjid beliau. Pada kesempatan itu diperbincangkan antara lain persoalan puteri Rasulallah.

Saat itu beliau bertanya kepada Abu Bakar Ash Shiddiq, “Apakah engkau bersedia menyampaikan persoalan Fatimah itu kepada Ali bin Abi Thalib.”

Abu Bakar Ash Shiddiq menyatakan kesediaanya. la beranjak untuk menghubungi Ali. Sewaktu Imam Ali melihat datangnya Abu Bakar Ash Shiddiq r.a. dengan tergopoh-gopoh dan terperanjat ia menyambutnya, kemudian bertanya, “Anda datang membawa berita apa?”

Setelah duduk beristirahat sejenak, Abu Bakar Ash Shiddiq segera menjelaskan persoalannya.

“Hai Ali, engkau adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta mempunyai keutamaan lebih dibanding dengan orang lain. Semua sifat utama ada pada dirimu. Demikian pula engkau adalah kerabat Rasulallah. Beberapa orang sahabat terkemuka telah menyampaikan lamaran kepada beliau untuk dapat mempersunting puteri beliau. Lamaran itu oleh beliau semuanya ditolak. Beliau mengemukakan, bahwa persoalan puterinya diserahkan kepada Allah Swt.

“Akan tetapi, hai Ali, apa sebab hingga sekarang engkau belum pemah menyebut-nyebut puteri beliau itu dan mengapa engkau tidak melamar untuk dirimu sendiri? Kuharap semoga Allah dan Rasul-Nya akan menahan puteri itu untukmu.”

Mendengar perkataan Abu Bakar  mata Ali berlinang-linang. Menanggapi kata-kata itu, Imam Ali r.a. berkata, “Abu Bakar, anda telah membuat hatiku goncang yang semulanya tenang. Anda telah mengingatkan sesuatu yang sudah kulupakan. Demi Allah, aku memang menghendaki Fatimah, tetapi yang menjadi penghalang satu-satunya bagiku ialah karena aku tidak mempunyai apa-apa.”

Abu Bakar terharu mendengar jawaban Imam Ali yang memelas itu. Untuk membesarkan dan menguatkan hati Ali, Abu Bakar berkat,: “Hai Ali, janganlah engkau berkata seperti itu. Bagi Allah dan Rasul-Nya dunia dan seisinya ini hanyalah ibarat debu bertaburan belaka!”

Setelah berlangsung dialog seperlunya, Abu Bakar berhasil mendorong keberanian Imam Ali untuk melamar puteri Rasulallah.

Beberapa waktu kemudian, Ali datang menghadap Rasulallah yang ketika itu sedang berada di tempat kediaman Ummu Salmah. Mendengar pintu diketuk orang, Ummu Salmah bertanya kepada Rasul Allah, “Siapakah yang mengetuk pintu?”

Rasulallah menjawab, “Bangunlah dan bukakan pintu baginya. Dia orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya, dan ia pun mencintai Allah dan Rasul-Nya?”

Jawaban Nabi itu belum memuaskan Ummu Salmah, Ia bertanya lagi, “Ya, tetapi siapakah dia itu?”

Related Posts

Tatkala Allah SWT Memperkenankan Surga Berbicara

“Dia saudaraku, orang kesayanganku!” jawab Nabi Muhammad s.a.w.

Ummu Salamah pun berdiri cepat-cepat menuju ke pintu, sampai kakinya terantuk-antuk. Setelah pintu ia buka, ternyata orang yang datang itu ialah Ali bin Abi Thalib. ia lalu kembali ke tempat semula. Ali masuk, kemudian mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasulallah.

Ali dipersilakan duduk di depan beliau. ia menundukkan kepala, seolah-olah mempunyai maksud, tetapi malu hendak mengutarakannya. Rasulallah mendahului berkata, “Hai Ali nampaknya engkau mempunyai suatu keperluan. Katakanlah apa yang ada dalam fikiranmu. Apa saja yang engkau perlukan, akan kauperoleh dariku!”

Mendengar kata-kata Rasulallah yang demikian itu, lahirlah keberanian Ali untuk berkata, “Maafkanlah, ya Rasul Allah. Anda tentu ingat bahwa anda telah mengambil aku dari paman anda, Abu Thalib dan bibi anda, Fatimah binti Asad, di kala aku masih kanak-kanak dan belum mengerti apa-apa.

“Sesungguhnya Allah telah memberi hidayat kepadaku melalui anda juga. Dan anda ya Rasulallah, adalah tempat aku bemaung dan anda jugalah yang menjadi wasilahku di dunia dan akhirat. Setelah Allah membesarkan diriku dan sekarang menjadi dewasa, aku ingin berumah tangga; hidup bersama seorang isteri.

“Sekarang aku datang menghadap untuk melamar puteri anda, Fatimah. Ya Rasulallah, apakah anda berkenan menyetujui dan menikahkan diriku dengan Fatimah?”

Ummu Salmah bercerita, ‘Saat itu kulihat wajah Rasul Allah nampak berseri-seri. Sambil tersenyum beliau berkata kepada Ali bin Abi Thalib: “Hai Ali, apakah engkau mempunyai suatu bekal mahar?”

“Demi Allah, anda sendiri mengetahui bagaimana keadaanku, tak ada sesuatu tentang diriku yang tidak anda ketahui. Aku tidak mempunyai apa-apa selain sebuah baju besi, sebilah pedang dan seekor unta.” jawab Ali bin Abi Thalib dengan terus terang.

“Tentang pedangmu itu, engkau tetap membutuhkannya untuk melanjutkan perjuangan di jalan Allah. Oan untamu itu engkau juga butuh untuk keperluan mengambil air bagi keluargamu dan juga engkau memerlukannya dalam perjalanan jauh. Oleh karena itu aku hendak menikahkan engkau hanya atas dasar maskawin sebuah baju besi saja.

Aku puas menerima barang itu dari tanganmu. Hai Ali engkau wajib bergembira, sebab Allah sebenamya sudah lebih dahulu menikahkan engkau di langit sebelum aku menikahkan engkau di bumi!’ Demikian versi riwayat yang diceritakan Ummu Salmah r.a.

Setelah segala-galanya siap, dengan perasaan puas dan hati gembira, dengan disaksikan oleh para sahabat, Rasulallah mengucapkan kata-kata ijab kabul pernikahan puterinya.

“Bahwasanya Allah Swt memerintahkan aku supaya menikahkan engkau, Fatimah atas dasar maskawin 400 dirham (nilai sebuah baju besi). Mudah-mudahan engkau dapat menerima hal itu.”

“Ya, Rasul Allah, itu kuterima dengan baik”, jawab Ali bin Abi Thalib r.a. dalam pemikahan itu.

Maka dengan begitu pernikahan Ali pun telah dilaksanakan di dua tempat yaitu di bumi dan di langit. []

Sumber: Sejarah Hidup Imam Ali bin Abi Thalib r.a./ Penulis: H.M.H. Al Hamid Al Husaini/ Penerbit: Lembaga Penyelidikan Islam,1981

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline