Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Lebih Utama Dibandingkan Sepuluh Tahun Beri’tikaf

0 34

Kehadiran bulan Ramadhan tak pernah sepi dari sambutan Kaum Muslim. Demikian pula yang dilakukan Abdullah ibn Al-Abbas, seorang sahabat dan saudara sepupu Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, yang terkenal sebagai seorang ahli tafsir dan bernama lengkap Abu Al-Abbas Abdullah ibn Al-Abbas ibn Abdul Muththalib ibn Hasyim ibn Abd Manaf.

Putra pasangan suami istri Al-Abbas ibn Abdul Muththalib dan Ummu Fadhil Lubabah Al-Kubra binti Al-Harits ini lahir tiga tahun sebelum hijrah di Makkah, kala Bani Hasyim sedang diboikot kaum Quraisy di Al-Syrb.

Dia lebih dahulu memeluk Islam daripada ayahnya. Di samping cerdas, sahabat yang baru berusia 13 tahun kala Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam wafat ini, juga dikenal memiliki ingatan sangat kuat. Selain itu, tokoh yang pernah menjabat sebagai Gubernur Basrah pada masa pemerintahan Ali ibn Abu Thalib ini juga dikenal sebagai ilmuwan yang berwawasan luas dan “Bapak Ahli Tafsir (Al-Quran)”.

Ini karena dia adalah sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam yang pertama kali menyusun tafsir Al-Quran. Hari itu, Abdullah ibn Al-Abbas sedang beri’tikaf di Masjid Nabawi, Madinah. Ketika dia dalam keadaan demikian, tiba-tiba seorang pria datang menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya.

“Wahai Saudaraku,” ucap Abdullah ibn Al-Abbas selepas menjawab ucapan salam tamunya itu, “Kulihat engkau begitu resah dan gelisah, ada apa?”

“Benar, wahai Putra Al-Abbas! Aku memiliki utang kepada seseorang. Demi penghuni makam itu (maksudnya Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam), aku tak mampu melunasi utang itu,” jawab pria itu dengan perasaan sedih dan malu.

“Saudaraku! Bolehkah aku berbicara kepada orang itu?” ucap cucu Abdul Muththalib.

“Tentu! Silakan, jika hal itu menurutmu pantas,” jawab pria itu sambil berterima kasih.

Abdullah ibn Al-Abbas pun keluar dari Masjid Nabawi dan mengenakan sandalnya. Melihat hal itu, seseorang menegurnya, “Wahai Abdullah ibn Al-Abbas! Kenapa engkau keluar dari masjid? Lupakah engkau bahwa engkau sedang berirtikaf?”

“Tidak, Saudaraku!” jawabnya.

Tetapi, aku pernah mendengar penghuni makam itu bersabda, “Barang siapa berjalan untuk memenuhi keperluan saudaranya dan berupaya sungguh-sungguh untuk memenuhi keperluan itu, hal itu lebih utama baginya ketimbang sepuluh tahun ber’itikaf Dan barang siapa beri’tikaf satu hari karena mengharapkan ridha Allah, Allah Swt akan menjauhkan antara dirinya dan neraka sejauh tiga parit yang jarak antara satu parit dan parit lainnya lebih jauh ketimbang jarak antara langit dan bumi.” []

Sumber: Pesona Ibadah Nabi: Shalat Zakat Puasa Haji/ Penulis: Ahmad Rofi` Usmani/ Penerbit: Mizania, 2015

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

you're currently offline