Jalan Sirah
Meniti Jalan Nabi

Kullihat Abdurrahman Bin ‘Auf Masuk Surga dengan Perlahan

 

“Orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan allah kemudian mereka tidak mengiringi apa yang telah mereka nafkahkan itu dengan membangkit-bangkit pemberiannya dan tidak pula kata-kata yang menyakitkan, niscaya mereka beroleh pahala di sisi Tuhan mereka, mereka tidak usah merasa takut dan tidak pula bersuka cita.” (Q.S. Al-Baqarah: 262)

Ayat itulah yang menenangkan ruh manusia yang sedang dalam perjalanannya untuk berpisah dengan alam dunia. Terdengar dari mulutnya yang mulai bergetar, “Sesungguhnya aku khawatir dipisahkan dari sahabat- sahabatku karena kekayaanku yang melimpah ruah.”

Atas izin Allah ia takkan pernah merasakan panasnya api neraka. Seperti yang diceritakan Ummul Mu’minin jika ia pernah mendengar Nabi SAW bersabda, “Ku llihat Abdurrahman bin ‘Auf masuk surga dengan perlahan.”

Abdurrahman bin ‘Auf, pria ajaib yang mampu mengalahkan tabi’at sebagai manusia yang serakah akan harta dan memiliki watak yang dinamis. Ialah saudagar yang berhasil dan ialah seorang Mu’min bijaksana yang membaktikan harta kekayaanya dengan kedermawanan yang tak terkira.

Nama lainnya ialah Ibnu ‘Auf, seorang pemimpin yang mengendalikan hartanya, bukan seorang budak yang dikendalikan oleh hartanya. Hingga terjadi satu peristiwa saat ia berkumpul dengan para sahabatnya dan terhidang beberapa jamuan, namun saat itu pula lah Ibnu ‘Auf menangis.

Maka sahabatnya bertanya, “Apa sebabnya anda menangis, wahai Abu Muhammad?”

“Nabi SAW telah wafat dan tak pernah beliau ataupun ahli rumahnya sampai kenyang makan roti gandum, apa harapan kita bila kita dipanjangkan usia tapi tidak menambah kebaikan atas kita. . . ?”

Begitulah kisahnya, yang tak pernah menyombongkan apapun yang dimiliki nya. Bahkan bila ada orang yang melihat ia duduk bersama dengan pelayan-pelayannya maka tidak akan ada yang dapat membedakannya. []

Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Sahabat Rasulullah/Pengarang: Khalid Muhammad Khalid/Penerbit: Diponegoro. Edisi/ Cet ke, : Cet 20. Tahun Terbit: 2006
Redaktur: Dini Koswarini

Artikel Terkait :

Comments are closed.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More